Masuki Era Baru, AI Mulai Mengerjakan Tugas Kompleks

William Ciputra•29 September 2026

Jakarta – Kecerdasan buatan (AI) mulai bergerak melampaui kemampuannya dalam menghasilkan teks, gambar, dan jawaban. Kini, para pengembang tengah mendorong AI untuk ikut menjalankan berbagai tugas kompleks atas nama pengguna.

Perubahan ini menjadi salah satu pembahasan utama dalam Google Cloud Summit di Doha, Qatar. Dalam acara tersebut, Google Cloud juga menandai tiga tahun sejak membuka infrastruktur cloud-nya di Qatar.

Jika AI generatif digunakan untuk membuat konten berdasarkan perintah pengguna, AI agentic melangkah lebih jauh. Teknologi ini dapat menjalankan tahapan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah tugas.

“AI generatif pada dasarnya menggunakan AI melalui large language model untuk membuat konten baru,” ujar Alex Rutter, Managing Director Google Cloud untuk bisnis Artificial Intelligence di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika, dikutip dari Euronews.

Sementara itu, menurut Rutter, AI agentic lebih berfokus pada alur kerja dan proses bisnis.

Salah satu penerapan yang mulai dilirik perusahaan adalah pekerjaan berulang yang membutuhkan pengecekan informasi dari berbagai sistem.

Rutter mencontohkan proses rekonsiliasi faktur. Dalam proses ini, informasi pada faktur perlu diperiksa dengan catatan pembayaran dan data pemasok sebelum pembayaran disetujui.

Menurut Rutter, pekerjaan seperti ini cocok dikerjakan oleh AI agent karena sifatnya sangat berulang dan melibatkan pengolahan data dari basis data. Penggunaan AI agent dinilai dapat meningkatkan efisiensi dalam proses tersebut.

Namun, semakin banyak pekerjaan yang diberikan kepada AI untuk dilakukan secara mandiri, semakin penting pula pengawasan manusia.

Google saat ini masih menganjurkan agar manusia terlibat dalam proses pemeriksaan hasil yang diberikan AI agent.

“Kami masih selalu menganjurkan agar pada tahap ini ada manusia yang terlibat untuk memverifikasi hasil yang mereka lihat untuk kepentingan bisnis. Namun, manusia cukup melihat pengecualian, bukan seluruh kumpulan data,” kata Rutter.

Kebutuhan terhadap pengawasan tersebut akan bergantung pada jenis pekerjaan dan tingkat risiko yang dapat diterima sebuah organisasi.

Untuk bidang seperti kedokteran, misalnya, Rutter mengatakan AI seharusnya membantu, bukan menggantikan pengambilan keputusan oleh tenaga medis.

Baca juga: ChatGPT Gratis Kini Bisa Chat Tanpa Batas

Qatar Perluas Pelatihan dan Pengujian AI

Google Cloud juga memanfaatkan pertemuan di Doha untuk menandai tiga tahun beroperasinya infrastruktur cloud lokal di Qatar.

Perusahaan tersebut sekaligus mengumumkan program peningkatan keterampilan digital nasional bersama Qatar Digital Academy.

Program ini ditargetkan menyediakan lebih dari 50.000 kesempatan belajar di Qatar hingga 2030. Pelatihannya ditujukan untuk berbagai kelompok, mulai dari pekerja dan eksekutif hingga pengembang.

Ghassan Kosta, Regional General Manager Google Cloud untuk Qatar, Oman, Bahrain, dan Irak, mengatakan perusahaan juga memperluas layanannya untuk mendukung sistem AI yang lebih maju.

“Kami memperkuat layanan kami untuk memasuki era AI agentic,” ujar Kosta.

Menurutnya, perkembangan teknologi AI juga membutuhkan infrastruktur yang mampu mendukungnya, termasuk di pusat data.

Selain program pelatihan, Google Cloud mengumumkan laboratorium inovasi yang dikembangkan Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi Qatar (MCIT) bersama Google Cloud.

Amna Al-Kaabi, Head of Emerging Technologies di kementerian tersebut, mengatakan laboratorium ini akan memungkinkan berbagai proyek AI diuji sebelum diterapkan.

“Nilai utama dari kerja sama ini terletak pada menghubungkan eksperimen teknologi di laboratorium dengan kebutuhan sektor yang sebenarnya,” ujar Al-Kaabi.

Ia menambahkan, program tersebut ditujukan untuk membantu proyek AI bergerak dari tahap pembuktian konsep menuju penerapan nyata yang berkelanjutan.

Baca juga: Uni Eropa Wajibkan Konten Buatan AI Diberi Label