Angka Kelahiran Singapura Turun ke Titik Terendah Sejak Merdeka

William Ciputra29 Juli 2026

Jakarta – Singapura mencatat rekor baru dalam sejarah demografinya. Untuk pertama kalinya sejak merdeka pada 1965, jumlah bayi yang lahir dalam satu tahun turun di bawah 30 ribu.

Laporan yang dirilis Immigration and Checkpoints Authority (ICA) menunjukkan hanya 29.864 bayi yang lahir sepanjang 2025. Angka tersebut turun 11,4 persen dibandingkan 33.703 kelahiran pada 2024.

Penurunan ini menjadi yang terendah dalam lebih dari 60 tahun terakhir. Sebagai perbandingan, saat Singapura resmi merdeka pada 1965, negara tersebut mencatat 55.725 kelahiran.

Di sisi lain, jumlah kematian terus meningkat seiring bertambahnya populasi lanjut usia. Pemerintah Singapura bahkan menyebut kombinasi angka kelahiran yang terus menurun dan populasi yang menua sebagai tantangan yang dapat memengaruhi masa depan negara.

Baca juga: Anak Tak Harus Sempurna, Orang Tua Perlu Dukung Potensinya

Tren Kelahiran Terus Menurun

Penurunan angka kelahiran di Singapura sebenarnya sudah berlangsung selama beberapa dekade.

Pada era 1970-an hingga 1990-an, jumlah bayi yang lahir setiap tahun umumnya berada di kisaran 40 ribu hingga lebih dari 50 ribu.

Namun, dalam dua dekade terakhir, angka tersebut terus merosot dan sebagian besar berada di bawah 40 ribu kelahiran per tahun.

Dari seluruh bayi yang lahir pada 2025, sekitar 87 persen atau 26.071 bayi memiliki setidaknya satu orang tua berkewarganegaraan Singapura.

Laporan ICA juga menunjukkan usia perempuan yang pertama kali menjadi ibu terus meningkat. Median usia ibu yang melahirkan anak pertama naik dari 31,3 tahun pada 2021 menjadi 32,1 tahun pada 2025.

Kondisi ini menjadi salah satu perhatian pemerintah karena tingkat kesuburan perempuan secara alami cenderung menurun seiring bertambahnya usia.

Baca juga: Survei: 9 dari 10 Warga Eropa Ingin Pindah Negara

Tingkat Kesuburan Makin Rendah

Lima bulan sebelum laporan ini diterbitkan, Wakil Perdana Menteri Singapura Gan Kim Yong mengungkapkan bahwa Total Fertility Rate (TFR) atau rata-rata jumlah anak yang diperkirakan dilahirkan setiap perempuan sepanjang usia reproduksinya turun ke rekor terendah, yakni 0,87 pada 2025.

Angka tersebut jauh di bawah tingkat penggantian populasi sebesar 2,1 anak per perempuan, yang dibutuhkan agar jumlah penduduk tetap stabil tanpa bergantung pada imigrasi.

Gan sebelumnya memperingatkan bahwa apabila tren ini terus berlanjut, populasi warga negara Singapura berpotensi mulai menyusut pada awal 2040-an.

Oleh karena itu, pemerintah tetap menjadikan dukungan terhadap pembentukan keluarga sebagai prioritas.

Di saat yang sama, Singapura juga menilai arus imigrasi yang dikelola secara hati-hati diperlukan untuk membantu menjaga jumlah penduduk.

Sejumlah pakar menilai rendahnya angka kelahiran dipengaruhi oleh beberapa faktor. Misalnya, memilih tetap melajang, menikah di usia lebih tua, atau memutuskan memiliki lebih sedikit anak.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah membentuk Marriage and Parenthood Reset Workgroup pada 2026.

Kelompok kerja lintas lembaga ini bertugas merumuskan berbagai kebijakan yang dapat mendorong masyarakat menikah dan memiliki anak.

Meski demikian, laporan terbaru juga mencatat beberapa perkembangan positif.

Jumlah ibu remaja berusia 19 tahun ke bawah turun signifikan dari 244 kelahiran pada 2024 menjadi 140 kelahiran pada 2025 atau turun sekitar 43 persen.

Selain itu, jumlah bayi yang didaftarkan tanpa mencantumkan nama ayah juga menurun 22 persen, dari 330 kasus pada 2024 menjadi 258 kasus pada 2025. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 17 persen yang berasal dari ibu berusia 19 tahun ke bawah.

Baca juga: Bising dan Ganggu Tetangga, Pria di Kyoto Ditangkap Polisi