Danantara Ditawari Jadi Pemilik Bandara Madinah

William Ciputra8 Agustus 2026

Jakarta – Danantara mendapat tawaran untuk memiliki porsi kepemilikan atas bandara Madinah atau Prince Mohammad bin Abdulaziz International Airport, Arab Saudi.

Tawaran ini disampaikan oleh CEO Danantara Rosan Roeslani yang baru pulang dari lawatannya ke Arab Saudi. Ia mengungkapkan, Menteri Investasi Arab Saudi merupakan orang baru yang juga temannya.

“Kami membicarakan beberapa kerja sama di bidang airtport di Madinah, salah satunya kita ditawarkan untuk Danantara mempunyai porsi kepemilikan di Airport Madinah,” kata Rosan di Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Rosan menambahkan, Danantara akan menjajaki tawaran tersebut dengan Mada Group selaku pemilik bandara Madinah.

Selain soal tawaran porsi kepemilikan bandara Madinah, Rosan juga menyebut melaporkan beberapa hal kepada Presiden Prabowo Subianto terkait kunjungannya ke Arab Saudi.

Laporan pertama, kata dia, terkait perkembangan pembangunan kawasan Kampung Haji Indonesia di Mekkah seluas 4,4 hektare.

Selain itu, Rosan juga menyebut telah melaporkan rencana pemangkasan jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada Presiden.

“Kurang lebih sudah 274 perusahaan per akhir Juli kemarin. Beliau (Presiden) juga minta di-update seperti itu,” katanya.

Baca juga: Sri Mulyani Kembali Duduki Jabatan di Bank Dunia

Pengembangan Ekosistem Protein

Danantara sendiri terus melakukan penjajakan terkait potensi investasi di masa depan. Teranyar, Danantara menjalin kemitraan strategis untuk pengembangan ekosistem protein di Indonesia.

Kemitraan ini terjalin antara Danantara Investment Management (DIM) bersama dengan JBS Group, produsen protein global.

Chief Investment Officer Danantara, Pandu Patria Sjahrir menjelaskan, kemitraan ini mencerminkan strategi Danantara Indonesia dalam menjalin kemitraan dengan operator kelas dunia.

“Kemitraan ini diharapkan dapat memanfaatkan pengalaman sekaligus jalur distribusi dari perusahaan protein global terkemuka,” katanya dalam keterangan pers yang diterima Urbanstories, Jumat (7/8/2026).

Kemitraan ini mencakup investasi senilai US$2,5 miliar untuk 25% kepemilikan pada joint venture (JV) baru yang mengelola operasi JBS di Australia dan Selandia Baru.

Selain itu, JV ini dapat menghimpun pembiayaan investasi tambahan hingga US$2,5 miliar secara bertahap, sehingga total modal yang tersedia akan mencapai US$5 miliar.

Pembiayaan ini akan digunakan untuk mendanai akuisisi dan investasi greenfield di Indonesia, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru.

Baca juga: Liburan ke Arab Saudi Kini Makin Praktis dengan Package Visa