Jakarta – Kawasan Senopati, Jakarta Selatan, kembali memiliki pilihan kuliner Jepang dengan hadirnya Gokuniku.
Restoran ini menawarkan pengalaman bersantap yang memadukan shabu-shabu dan sukiyaki dengan konsep modern Japanese, pilihan daging impor, serta ruang privat untuk berbagai kebutuhan.
Memilih Senopati sebagai outlet pertama, Gokuniku melihat kawasan tersebut memiliki karakter konsumen yang sesuai dengan pengalaman bersantap yang ingin dibangun.
“Kalau menurut saya lokasi cuma bisa di daerah Senopati atau di Menteng. Maka untuk outlet pertama saya pilih di Senopati,” ujar CEO Gokuniku, Michael, dalam Grand Opening Gokuniku, Senin (24/8/2026).
Sekitar 80 persen pengunjung Gokuniku saat ini merupakan konsumen lokal. Sementara itu, warga Jepang dan wisatawan masing-masing berada di kisaran 10 persen.
Komposisi tersebut turut membentuk pendekatan Gokuniku dalam menghadirkan hidangan Jepang.
Michael menegaskan, restoran ini ingin menawarkan pengalaman yang tetap membawa karakter kuliner Jepang, tetapi terasa dekat dengan kebiasaan dan selera konsumen Indonesia.
Selain makanan, pengalaman tersebut diterjemahkan melalui interior modern Japanese dan sejumlah ruang privat.
Gokuniku memiliki sembilan VIP room yang dilengkapi fasilitas karaoke, serta satu ruangan besar di lantai empat yang dapat menampung sekitar 30 orang.
Baca juga: Festival Kuliner Serpong 2026 Ajak Jelajah Aneka Rasa Nusantara
Japan’s Ultimate Meat Experience

Konsep Gokuniku berpusat pada pengalaman menikmati daging dalam hidangan shabu-shabu dan sukiyaki.
Oleh karena itu, restoran menyediakan berbagai pilihan daging dengan karakter berbeda, mulai dari Togarashi, Kata Rosu, hingga Ribeye premium.
Untuk pilihan Ribeye premium, Gokuniku menggunakan daging Jepang yang didatangkan dari sejumlah wilayah, termasuk Miyazaki, Kagoshima, dan Hida. Seluruh pilihan daging Jepang tersebut merupakan produk impor.
“Kalau itu yang fat-nya, yang sudah marbling-nya mungkin sudah tahu lah ya, yang cantik banget,” kata Michael.
Togarashi menjadi salah satu pilihan bagi konsumen yang menginginkan daging dengan kandungan lemak lebih rendah.
Sementara bagi konsumen yang mencari pilihan lebih terjangkau, Gokuniku menyediakan lunch package dengan daging Australia Black Angus.
Harga lunch package dimulai dari Rp188 ribu, belum termasuk pajak. Sementara set menu reguler Rp368 ribu hingga Rp388 ribu, dengan sekitar 120 gram daging, sayuran, nasi, dan komponen pendamping lainnya.
“Daging itu enggak banyak kok, 120 gram. Cukup buat satu orang makan, sama sayur sama nasi,” ujar Michael.
Pengalaman bersantap juga tidak hanya ditentukan oleh hidangan. Gokuniku menyediakan sembilan VIP room dengan fasilitas karaoke yang dapat digunakan untuk makan bersama keluarga, berkumpul dengan teman, maupun kebutuhan perusahaan.
“Kita punya konsep lebih pengin VIP banyak, bisa karaoke. Terus kita di lantai empat juga ada ruangan besar untuk corporate meeting segala macam,” tutur Michael.
Menurutnya, ruang privat menjadi bagian penting dari konsep Gokuniku karena semakin banyak konsumen Indonesia yang mencari pengalaman makan dengan suasana lebih personal.
Untuk penggunaan ruang privat, Gokuniku menerapkan minimum charge. Salah satu VIP room memiliki minimum charge sekitar Rp2 juta, sedangkan ruangan besar di lantai empat memiliki minimum charge sekitar Rp10 juta.
Baca juga: Open Dining of Jakarta Hadirkan Sensasi Kulineran di Atas Bus
Spicy Tomato Sukiyaki Jadi Identitas

Di antara pilihan menu yang tersedia, spicy tomato sukiyaki menjadi hidangan yang diposisikan sebagai identitas Gokuniku.
Menu ini memberikan pendekatan berbeda terhadap sukiyaki melalui perpaduan rasa gurih dan manis dengan asam segar serta cabai rawit.
“Yang bikin beda itu spicy tomato sukiyaki-nya kita. Itu signature product-nya kita,” kata Michael.
Inspirasi menu tersebut berasal dari pengalaman Michael mencicipi tomato sukiyaki di Singapura. Kuroya menjadi salah satu restoran yang disebutnya sebagai referensi.
Namun, Gokuniku tidak sekadar meniru hidangan tersebut. Konsepnya dikembangkan kembali dengan menyesuaikan karakter rasa agar lebih mudah diterima konsumen Indonesia.
“Kalau tomato spicy ini, dia ada rasa asam segarnya. Ada cabai rawitnya juga. Nah, itu yang bikin beda sebenarnya,” ujarnya.
Menurutnya, hidangan dengan konsep serupa juga bukan menu yang umum ditemukan di Jepang.
“Karena di Jepang sendiri pun enggak ada. Ada, tapi sedikit, enggak favorit,” katanya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan target utama Gokuniku yang memang merupakan konsumen lokal. Dengan begitu, pengalaman kuliner Jepang yang ditawarkan tidak dibuat terlalu jauh dari preferensi pasar Indonesia.
Meski baru menggelar grand opening, Gokuniku sebenarnya telah beroperasi sejak Lebaran. Masa tersebut dimanfaatkan untuk melihat respons konsumen sekaligus membangun basis pelanggan.
Respons awal disebut cukup positif. Pelanggan yang sudah mencoba Gokuniku mulai kembali dengan membawa teman maupun kerabat.
“Kalau sudah biasanya makan sekali, biasa ngajak lagi temannya atau kerabatnya. Kita pelanggan tetap juga banyak di sini,” ujar Michael.
Untuk memperkenalkan restoran kepada lebih banyak konsumen, Gokuniku menghadirkan promo grand opening berupa diskon 15 persen yang berlaku pada 25 Agustus hingga 6 September.
Gokuniku belum menetapkan rencana pembukaan cabang baru. Michael memilih memastikan outlet pertama dapat berkembang terlebih dahulu sebelum memperluas bisnis.
“Yang penting orang cobain dulu, suka dulu. Mending saya jalan, jalan di tempat tapi bertumbuh daripada lari tapi anjlok,” katanya.
Nama Gokuniku sendiri berasal dari kata “Goku” yang bermakna ultimate dan “Niku” yang berarti daging dalam bahasa Jepang. Filosofi tersebut kemudian dirangkum dalam konsep Ultimate Meat Experience.
“Jadi kita pengin kasih experience yang terbaik,” pungkas Michael.



