Konsumsi Gula Tinggi, Waktu Sikat Gigi Masyarakat Masih Belum Tepat

William Ciputra18 September 2026

Jakarta – Konsumsi minuman manis masih menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia, sementara kebiasaan menjaga kesehatan gigi belum sepenuhnya dilakukan dengan tepat.

Data gaya hidup menunjukkan 47,5 persen masyarakat mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali sehari.

Sedangkan dari 95,6 persen masyarakat yang menyikat gigi setiap hari, hanya 6,2 persen yang melakukannya di waktu yang tepat.

Kebiasaan tersebut menjadi perhatian dalam pelaksanaan Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026 yang kembali digelar Unilever Indonesia melalui Pepsodent.

BKGN 2026 ini menggandeng Persatuan Dokter Gigi Indonesia, Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia, dan Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia.

Tahun ini, BKGN mengangkat pentingnya menjaga keseimbangan microbiome mulut sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan gigi dan mulut.

Program yang telah berjalan sejak 2010 tersebut resmi dibuka melalui kegiatan edukasi dan pemeriksaan gigi bagi siswa SDN Menteng 01 Jakarta.

Acara kemudian dilanjutkan pada Oktober hingga Desember 2026 di Fakultas Kedokteran Gigi dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan di berbagai wilayah Indonesia.

Baca juga: Kapan Orang dengan Obesitas Perlu Minum Obat?

Kesehatan Gigi Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari

Data yang sama menunjukkan masih adanya kesenjangan antara kebiasaan menyikat gigi dan pemeriksaan ke tenaga medis gigi.

Ketika mengalami masalah gigi dan mulut, hanya 11,2 persen masyarakat yang mencari tenaga medis gigi dalam satu tahun.

Berbagai kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap masih tingginya masalah kesehatan gigi dan mulut. Sebanyak 57 persen penduduk Indonesia berusia tiga tahun ke atas tercatat mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut.

Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono mengatakan pemeriksaan gigi sebenarnya sudah masuk dalam program Cek Kesehatan Gratis dan perlu dimanfaatkan, terutama oleh anak-anak sekolah.

“Berita baiknya, pemeriksaan gigi sudah masuk ke dalam program Cek Kesehatan Gratis, dan pemeriksaan ini harus diikuti oleh semua anak sekolah,” ujar Dante dalam peresmian BKGN 2026.

Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan masih banyak anak yang mengalami masalah gigi.

Dante menyebut empat dari 10 anak Indonesia di sekolah memiliki gigi berlubang, kondisi yang menurutnya dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Ia juga mengingatkan bahwa pemeriksaan gigi sebaiknya tidak dilakukan hanya ketika sudah muncul rasa sakit.

“Waktu untuk memeriksakan gigi yang baik adalah bukan ketika kita menderita sakit gigi, tetapi sebaiknya dilakukan secara rutin setiap enam bulan,” katanya.

BKGN 2026 kemudian membawa pembahasan tersebut lebih jauh dengan memperkenalkan pentingnya keseimbangan microbiome mulut.

Rongga mulut memiliki ekosistem yang dihuni berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri baik dan bakteri yang berpotensi merugikan.

Menjaga kesehatan gigi dan mulut bukan berarti menghilangkan seluruh bakteri di dalam rongga mulut.

Perawatan yang tepat justru diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan microbiome, karena gangguan keseimbangan tersebut membuat bakteri merugikan berkembang lebih dominan dan memicu berbagai masalah.

Salah satunya berkaitan dengan konsumsi gula yang terlalu sering. Bakteri dapat menghasilkan asam secara berulang sehingga lingkungan rongga mulut menjadi semakin asam.

Kondisi ini menyebabkan demineralisasi enamel, dan pada akhirnya meningkatkan risiko terbentuknya karies.

Selain itu, perubahan komunitas bakteri di sekitar garis gusi dapat memicu respons inflamasi yang menyebabkan masalah seperti gingivitis hingga periodontitis.

Aktivitas bakteri di dalam rongga mulut juga dapat menghasilkan senyawa yang menyebabkan bau mulut.

Baca juga: Pasukan bodrex Ajak Masyarakat Luangkan 5 Menit untuk Jeda

BKGN 2026 Perluas Akses Edukasi dan Perawatan

BKGN 2026 tidak hanya membawa edukasi mengenai kesehatan gigi dan mulut, tetapi juga memperluas akses pemeriksaan dan perawatan gratis.

Program ini akan hadir di 29 Fakultas Kedokteran Gigi dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan di berbagai wilayah Indonesia.

Bersama PB PDGI, edukasi juga akan difokuskan di enam kota dan kabupaten di Jawa Barat serta sejumlah daerah yang terdampak bencana, termasuk Nusa Tenggara Timur dan Papua.

Pesantren dan komunitas ibu turut menjadi sasaran untuk mendorong kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan mulut di lingkungan masing-masing.

Menurut drg. Ratu Mirah Afifah, Personal Care Community Lead Unilever Indonesia, pelaksanaan BKGN terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu kesehatan gigi.

“Di BKGN 2026, kami ingin mengangkat paradigma baru mengenai pentingnya perlindungan ekstra dalam merawat kesehatan gigi dan mulut, yaitu dengan menjaga keseimbangan microbiome mulut sebagai awal dari kesehatan gigi dan mulut secara menyeluruh,” ujar Ratu Mirah.

Ia menilai pembahasan tersebut semakin relevan di tengah perubahan gaya hidup masyarakat dan masih adanya pemahaman yang keliru mengenai kondisi gigi dan mulut yang sehat.

Menurutnya, edukasi dan akses pemeriksaan menjadi bagian penting agar masyarakat tidak hanya datang ke dokter gigi ketika sudah mengalami masalah.

BKGN 2026 mengusung tema “Gigi Kuat, Senyum Sehat, Indonesia Hebat” dengan subtema “Periksa, Tindaklanjuti, Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut”.

Rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi sekaligus mendorong masyarakat melakukan tindakan preventif dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut.

Baca juga: Artificial Ligament, Opsi Pemulihan Cepat pada Cedera ACL