Pertama di Dunia, AI Bantu Operasi Tumor Otak Secara Real-Time

William Ciputra27 Agustus 2026

Jakarta – Teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai mengambil peran secara langsung dalam prosedur bedah otak.

Di Inggris, seorang pasien menjadi yang pertama di dunia menjalani operasi tumor otak dengan bantuan AI secara real-time. Operasi ini bertujuan mengangkat tumor sekaligus mempertahankan penglihatannya.

Pasien tersebut adalah Rhys Hibbert, pria berusia 48 tahun asal Bedfordshire. Ia pertama kali didiagnosis mengalami tumor otak pada Desember 2024 setelah tiba-tiba terjatuh ketika sedang berjalan dan mengalami kejang.

Kondisinya semakin memburuk. Hibbert akhirnya memilih menjalani operasi dan secara sukarela ikut dalam penelitian untuk menguji penggunaan AI selama prosedur berlangsung.

“Kalau pasien tidak bersedia ikut dalam penelitian, bagaimana dokter bisa belajar dan bagaimana dunia kedokteran bisa berkembang?” kata Hibbert, dikutip dari Euronews, Kamis (27/8/2026).

Ketika ditanya apakah bersedia menjadi pasien pertama di dunia yang menjalani operasi dengan teknologi AI secara langsung, ia langsung menyetujuinya.

“Saya menjawab, tentu saja,” ujarnya.

Baca juga: Chatbot AI Jadi Tempat Curhat Baru Remaja dan Gen Z

Menurut dokter, tumor yang dideritanya berpotensi terus mengancam penglihatan Hibbert dan pada akhirnya dapat menyebabkan kebutaan.

Operasi kemudian berhasil mengangkat tumor tanpa mengorbankan penglihatannya. Hibbert bahkan merasakan perubahan ketika terbangun setelah operasi.

“Ketika saya sadar, saya bisa melihat seluruh ruangan dengan jelas,” katanya.

Operasi berlangsung di National Hospital for Neurology and Neurosurgery (NHNN), bagian dari University College London Hospitals (UCLH).

Prosedur ini merupakan bagian dari uji klinis yang menguji teknologi AI untuk membantu dokter mengambil keputusan selama operasi otak.

Teknologi tersebut dikembangkan oleh University College London dan didanai National Institute for Health and Care Research (NIHR).

Berbeda dari penggunaan AI yang hanya menganalisis hasil pemindaian sebelum operasi, sistem ini bekerja ketika prosedur sedang berlangsung.

AI menganalisis rekaman video operasi secara langsung dan membantu tim bedah mengenali struktur penting di bagian dasar otak.

Area tersebut memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi. Kelenjar pituitari yang ukurannya kurang lebih sebesar kelereng berada berdekatan dengan pembuluh darah serta saraf yang mengendalikan penglihatan.

Dalam kondisi seperti ini, perbedaan hanya sekitar satu milimeter dapat menjadi sangat menentukan. Kesalahan dapat menyebabkan kebutaan, stroke, bahkan kematian.

AI kemudian membantu dokter mengenali area yang berisiko ketika tumor diangkat.

Dengan informasi tersebut, tim bedah dapat berupaya mengangkat tumor sebanyak mungkin sekaligus menghindari struktur penting di sekitarnya.

Teknologi ini juga memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh. AI nantinya dapat digunakan untuk melacak instrumen bedah serta interaksi antara instrumen dan jaringan tubuh selama prosedur berlangsung.

Tujuannya bukan menggantikan dokter, melainkan memberikan informasi tambahan agar tim bedah dapat bekerja dengan lebih presisi ketika menghadapi prosedur yang kompleks.

Menteri Inovasi Kesehatan Inggris James Frith menyebut prosedur tersebut sebagai contoh potensi AI dalam mengubah layanan kesehatan.

“Ini adalah contoh AI dalam kondisi terbaiknya: pasien mendapatkan perawatan yang sebelumnya dianggap tidak mungkin berkat teknologi mutakhir,” ujar Frith.

Meski demikian, Frith menekankan bahwa perkembangan AI di bidang kesehatan tetap harus berjalan bersama sistem pengamanan yang ketat.

“Kita akan selalu memastikan keselamatan menjadi perhatian utama,” katanya.

Baca juga: 5 Hal yang Perlu Dicek Sebelum Mengirim Pesan Buatan AI