Jakarta – Tawuran masih menjadi persoalan yang berulang di Jakarta. Fenomena ini tentu menimbulkan kerugian bagi banyak pihak, termasuk fasilitas umum yang turut terganggu.
Data Polda Metro Jaya menunjukkan terdapat 440 kejadian tawuran dan keributan kelompok sepanjang 2025 di wilayah hukumnya. Jumlah tersebut setara dengan rata-rata sekitar 37 kejadian setiap bulan.
Memasuki 2026, penanganan tawuran masih terus dilakukan. Sepanjang Januari 2026, polisi mengamankan 105 pelaku berdasarkan 27 laporan polisi terkait tawuran di wilayah hukum Polda Metro Jaya.
Dari jumlah tersebut, 14 orang diamankan tim Polda Metro Jaya dan 91 lainnya oleh jajaran polres.
Jakarta Timur menjadi salah satu wilayah yang memiliki catatan cukup tinggi. Sepanjang 2025, tercatat 132 kejadian tawuran di wilayah tersebut.
Hingga Mei 2026, jumlahnya tercatat 55 kejadian, sementara di sekitar lokasi arena ring tinju dan skatepark di Pasar Rebo-Ciracas tercatat 17 kejadian.
Baca juga: Terowongan Senayan City-Plaza Senayan, Urai Kemacetan hingga Lapak untuk UMKM
Penanganan Tawuran Berkelanjutan
Menanggapi persoalan ini, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tengah menyiapkan peta jalan untuk menangani tawuran secara berkelanjutan.
“Di dalam menyelesaikan persoalan tawuran, saya lebih ingin menyelesaikan bukan dengan cara apa yang bersifat kasuistik hanya sesaat saja, tetapi yang paling utama dan terutama adalah bagaimana anak-anak muda itu energinya tersalurkan secara lebih baik,” ujar Pramono dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (22/8/2026).
Pendekatan tersebut salah satunya diwujudkan melalui penyediaan fasilitas olahraga. Pemprov DKI telah menghadirkan arena ring tinju dan skatepark di kolong Flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur, sebagai ruang aktivitas gratis bagi masyarakat.
Fasilitas tersebut dibangun dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, swasta, dan komunitas. Ring tinju mulai digunakan pada Januari 2026, sementara skatepark di lokasi tersebut telah menjadi ruang aktivitas komunitas sejak beberapa tahun sebelumnya.
Pramono melihat fasilitas olahraga sebagai salah satu cara untuk mengalihkan energi anak muda dari jalanan ke kegiatan yang lebih positif.
Bahkan, setelah melihat penurunan tawuran di Jakarta Timur, ia berencana menghadirkan fasilitas serupa di kawasan Kampung Melayu.
Pendekatan ini juga diawali dengan dialog bersama kelompok pemuda. Wali Kota Jakarta Timur Munjirin mengatakan pemerintah sebelumnya mengundang sejumlah kelompok yang kerap terlibat tawuran untuk berdiskusi.
Dari pertemuan tersebut, muncul kebutuhan terhadap tempat latihan tinju yang lebih mudah dijangkau.
Hadirnya ruang aktivitas kemudian diharapkan tidak hanya mengurangi potensi tawuran, tetapi juga membangun interaksi positif antarmasyarakat.
Pemanfaatan ruang publik dapat menjadi sarana bagi anak muda untuk berkegiatan, berkomunikasi, sekaligus membangun rasa saling menghormati.
Selain pendekatan berbasis fasilitas publik, Pemprov DKI juga berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk mengantisipasi potensi konflik antarkelompok remaja. Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan.
Bagi Pramono, penyelesaian tawuran membutuhkan kombinasi antara pencegahan, pembinaan, penyediaan ruang publik, dan penegakan hukum. Pemerintah tidak ingin persoalan tersebut hanya ditangani ketika konflik sudah terjadi.
“Saya meyakini bahwa untuk menyelesaikan itu tidak semata-mata kemudian hanya bersifat jangka pendek saja. Saya ingin menyelesaikannya lebih mendasar dan berjangka panjang,” pungkasnya.
Baca juga: Pelatihan Kerja di Jakarta Makin Masif untuk Tekan Pengangguran



