Relationship Anxiety: Kenali Tandanya Sebelum Hubungan Rusak!

William Ciputra31 Juli 2026

Jakarta – Merasa cemas dalam hubungan sesekali merupakan hal yang wajar. Namun jika rasa cemas itu terus muncul meski hubungan berjalan baik, bisa jadi kamu mengalami relationship anxiety.

Relationship anxiety adalah kondisi ketika seseorang terus-menerus merasa khawatir, tidak aman, atau ragu terhadap pasangan dan hubungan yang sedang dijalani.

Sebagai contoh, muncul pikiran bahwa pasangan tidak benar-benar mencintai, takut ditinggalkan, atau terus mempertanyakan apakah hubungan tersebut akan bertahan lama atau tidak.

Perasaan seperti ini bisa muncul pada siapa saja, bahkan pada pasangan yang memiliki hubungan sehat. Psikoterapis Astrid Robertson menyebut relationship anxiety sebagai kondisi yang sangat umum terjadi.

Meski demikian, jika dibiarkan berlarut-larut, kecemasan tersebut dapat mengganggu kesehatan mental, memicu kelelahan emosional, hingga merusak hubungan itu sendiri.

Menariknya, penyebab relationship anxiety tidak selalu berasal dari pasangan atau hubungan yang sedang dijalani.

Dalam banyak kasus, kondisi ini justru dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, rasa percaya diri yang rendah, atau kebiasaan berpikir berlebihan.

Baca juga: Membina Hubungan yang Aman Secara Emosional dengan Pasangan

Tanda-tanda Relationship Anxiety

Relationship anxiety dapat muncul dalam berbagai bentuk. Pada tahap awal, kamu mungkin hanya sesekali merasa ragu. Namun, ketika kecemasan semakin kuat, pikiran tersebut bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.

Salah satu tanda yang paling umum adalah terus mempertanyakan apakah diri sendiri benar-benar berarti bagi pasangan.

Misalnya, muncul kekhawatiran pasangan tidak merasa rindu jika kamu tidak ada, tidak akan memberikan dukungan saat dibutuhkan, atau hanya bertahan dalam hubungan karena ada keuntungan tertentu.

Tanda lainnya adalah terus meragukan perasaan pasangan. Meski pasangan sudah menunjukkan kasih sayang, kamu tetap merasa ia sebenarnya tidak mencintaimu.

Balasan pesan yang terlambat atau perubahan sikap yang sebenarnya biasa saja bisa langsung dianggap sebagai pertanda hubungan sedang bermasalah.

Relationship anxiety juga sering ditandai dengan rasa takut berlebihan ditinggalkan.

Akibatnya, seseorang memilih memendam masalah, menghindari konflik, atau selalu berusaha menyenangkan pasangan agar hubungan tidak berakhir.

Selain itu, orang dengan relationship anxiety cenderung terus mempertanyakan kecocokan hubungan, bahkan ketika semuanya berjalan baik.

Perbedaan kecil, seperti selera musik atau hobi, bisa terasa seperti masalah besar yang membuat hubungan diragukan.

Sebagian orang juga tanpa sadar melakukan self-sabotage, seperti sengaja menjauh, menguji kesetiaan pasangan, atau mencari pembuktian bahwa pasangannya benar-benar peduli.

Padahal, yang perlu dipahami bahwa perilaku tersebut justru berisiko menciptakan konflik yang sebenarnya tidak perlu.

Tanda lain yang tak kalah umum adalah kebiasaan menganalisis berlebihan setiap ucapan maupun tindakan pasangan.

Hal-hal sederhana bisa diartikan sebagai sinyal bahwa hubungan sedang memburuk, meski belum tentu demikian.

Jika kamu lebih sering menghabiskan waktu untuk mengkhawatirkan hubungan daripada menikmati momen bersama pasangan, kondisi tersebut juga bisa menjadi pertanda relationship anxiety.

Baca juga: 7 Cara Membangun Kedekatan Fisik agar Hubungan Makin Hot

Bagaimana Mengatasi Relationship Anxiety?

Mengatasi relationship anxiety dimulai dengan mengenali penyebabnya. Pengalaman diselingkuhi, ditinggalkan secara tiba-tiba, atau pernah dibohongi oleh pasangan di masa lalu dapat meninggalkan luka emosional yang memengaruhi hubungan berikutnya.

Selain itu, rasa percaya diri yang rendah juga membuat seseorang lebih mudah meragukan dirinya sendiri maupun kasih sayang pasangannya.

Agar relationship anxiety tidak semakin mengganggu, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.

Pertama, pertahankan identitas diri. Tetap luangkan waktu untuk menjalani hobi, bertemu teman, atau mengejar tujuan pribadi agar kebahagiaan tidak sepenuhnya bergantung pada pasangan.

Kedua, latih kesadaran diri (mindfulness) agar tidak langsung mempercayai setiap pikiran negatif yang muncul. Tidak semua kekhawatiran mencerminkan kenyataan.

Ketiga, bangun komunikasi yang jujur dengan pasangan. Daripada terus menebak-nebak isi pikiran pasangan, cobalah mengungkapkan perasaan dan kebutuhan secara terbuka.

Keempat, hindari mengambil keputusan hanya berdasarkan rasa cemas. Saat pikiran dipenuhi kekhawatiran, seseorang lebih mudah bereaksi secara impulsif dan melakukan tindakan yang justru merusak hubungan.

Apabila relationship anxiety mulai mengganggu kualitas hidup, hubungan, atau kesehatan mental, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional.

Konsultasi dengan psikolog atau terapis dapat membantu mengidentifikasi akar penyebab kecemasan sekaligus menemukan cara yang lebih sehat untuk mengelolanya.

Baca juga: Posisi Seks yang Paling Disuka dan Dibenci Perempuan, Kamu Setuju?