Separuh Tips Kesehatan Mental di TikTok Tidak Akurat

William Ciputra6 Agustus 2026

Jakarta – Kesehatan mental menjadi isu yang populer dalam beberapa tahun terakhir. Namun apa jadinya jika tips tentang kesehatan mental justru menampilkan penjelasan yang tidak akurat?

Fakta ini terungkap dalam studi yang dilaporkan The Guardian. Laporan itu menyebutkan, 52% konten kesehatan mental dalam #mentalhealthtips di TikTok berisi penjelasan tidak akurat alias menyesatkan.

Dalam studi itu, The Guardian memilih 100 video tips kesehatan mental yang menggunakan tagar tersebut. Kemudian, video itu diserahkan kepada akademisi dan praktisi di bidang kesehatan mental untuk ditinjau.

Di antara video yang ditinjau itu adalah klaim bahwa seseorang bisa mengatasi kecemasan (anxiety) dengan memakan jeruk saat mandi.

Ada juga beberapa video yang mengklaim emosi wajar yang dirasakan seseorang sebagai tanda penyakit mental.

Menurut Psikiater di NHS, Dan Paulter, video-video itu melabeli pengalaman dan emosi sehari-hari sebagai gangguan medis, yang merujuk pada diagnosis penyakit mental serius.

Baca juga: Membina Hubungan yang Aman Secara Emosional dengan Pasangan

“Hal ini sama dengan menyebarkan informasi keliru dan dapat meremehkan pengalaman hidup orang yang memang punya penyakit mental serius,” katanya.

Sementara itu, Psikolog dari King’s College London, Liam Modlin menyoroti video yang menyamakan rasa lelah biasa dengan depresi.

“Bisa saja beberapa gejalanya mirip, tapi kelelahan bisa juga disebabkan berbagai gangguan dan pergumulan lain,” kataya.

Dalam laporannya, The Guardian juga menemukan video-video yang menyalahgunakan istilah terapeutik.

Penyalahgunaan ini bukan masalah kecil. Pasalnya, hal itu bisa mendorong orang lain untuk diagnosis mandiri dan keliru melabeli suatu kondisi.

Ada juga video yang menerangkan terapi pengobatan yang belum terbukti. Misalnya anjuran menulis pengalaman traumatis selama 15 menit, alih-alih menjalani terapi.

Psikoterapis Amber Johnston menegaskan, tidak ada penelitian yang mendukung klaim itu.

“Sebaliknya, ada risiko seseorang memaksa diri kembali ke pola pikir traumatis tanpa dukung terapis berpengalaman,” tegasnya.

Terkait temuan-temuan tersebut, dilansir dari People, TikTok mengaku secara aktif bekerja sama dengan para ahli kesehatan untuk mempromosikan informasi terpercaya.

“Kami juga menghapus 98% informasi keliru yang berbahaya, bahkan sebelum ada laporan,” kata perwakilan TikTok.

Baca juga: Sehat Nggak Sih Hubunganmu dengan Pasangan? Cek Tanda-tandanya!