Studi Temukan Kaitan Polusi Udara dengan Risiko Bunuh Diri

William Ciputra17 September 2026

Jakarta – Paparan polusi udara dalam jangka pendek maupun panjang berkaitan erat dengan peningkatan risiko pikiran untuk bunuh diri dan kematian akibat bunuh diri.

Temuan tersebut berasal dari sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology & Community Health, sebagaimana dilansir dari Euronews.

Analisis tersebut meninjau lebih dari 40 studi yang melihat hubungan berbagai jenis polusi, termasuk polusi udara, suara, cahaya, dan air, dengan kematian akibat bunuh diri, percobaan bunuh diri, serta pikiran untuk bunuh diri.

Hasil analisis menunjukkan paparan jangka pendek terhadap partikel kecil seperti PM2.5 dan PM10, serta paparan jangka panjang terhadap nitrogen dioksida (NO2) dan PM2.5, berkaitan dengan peningkatan risiko bunuh diri.

“Tidak ada satu penyebab tunggal untuk bunuh diri, tetapi alasannya bersifat multifaktor dan mencakup berbagai faktor individual dan biologis, selain faktor budaya dan sosial yang lebih luas,” tulis para peneliti.

Baca juga: Paham Kondisi Fertilitas Penting untuk Merencanakan Kehamilan

Temuan tersebut memberikan gambaran lebih luas mengenai kemungkinan peran paparan lingkungan terhadap risiko bunuh diri.

Namun, para peneliti juga menekankan bahwa risiko lingkungan dalam konteks ini masih belum sepenuhnya dipahami.

Salah satu kemungkinan mekanismenya berkaitan dengan dampak polusi terhadap sistem saraf.

Polusi udara dan air sebelumnya telah dikaitkan dengan efek neurologis, termasuk peradangan kronis dan neurotoksisitas, yang dapat memengaruhi fungsi otak, suasana hati, serta kemampuan menghadapi stres.

Polusi suara dan cahaya, termasuk yang berasal dari lalu lintas, juga dapat berkaitan dengan peningkatan stres melalui gangguan ritme sirkadian.

Meski demikian, temuan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa polusi menjadi penyebab langsung perilaku bunuh diri.

Susana Al-Halabí, profesor psikologi di University of Oviedo, Spanyol, yang tidak terlibat dalam penelitian, menekankan hal tersebut.

“Kontribusi utama penelitian ini bukan untuk menunjukkan bahwa polusi merupakan faktor penyebab perilaku bunuh diri, melainkan mengingatkan bahwa penderitaan psikologis selalu terjadi dalam konteks tertentu,” ujar Al-Halabí.

Menurut Al-Halabí, polutan juga dapat menjadi penanda lingkungan sosial yang lebih rentan, seperti kawasan dengan kondisi tempat tinggal yang kurang baik, kualitas lingkungan yang lebih rendah, tingkat stres sehari-hari yang lebih tinggi, atau ketimpangan yang lebih besar.

Para peneliti menilai masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami dampak kumulatif berbagai paparan lingkungan terhadap risiko bunuh diri.

Mereka juga menyoroti pentingnya mengenali paparan lingkungan yang dapat dimodifikasi sebagai salah satu faktor dalam upaya pencegahan bunuh diri.

Jika kamu sedang mengalami tekanan berat, memiliki pikiran untuk menyakiti diri, atau merasa membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, kamu tidak harus menghadapinya sendirian. Hubungi tenaga profesional kesehatan mental atau layanan bantuan krisis di tempat kamu berada untuk mendapatkan dukungan.

Baca juga: Mengenal Gangguan Saraf Tepi dan Penanganan Medisnya