Survei: 9 dari 10 Warga Eropa Ingin Pindah Negara

William Ciputra27 Juli 2026

Jakarta – Fenomena #KaburAjaDulu ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Eropa, mayoritas warga di sana juga berpikir untuk pindah dan hidup di negara lain akibat berbagai alasan, termasuk masalah finansial dan biaya hidup yang semakin mencekik.

Temuan tersebut terungkap dalam survei yang dilakukan perusahaan asuransi digital Feather terhadap 2.000 responden di Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia.

Hasil dari survei tersebut, sebagaimana dilansir dari Euronews, hanya sekitar satu dari 10 orang yang memastikan tidak ingin pindah ke luar negeri. Artinya, sembilan dari 10 warga Eropa pernah mempertimbangkan hidup di negara lain.

Krisis biaya hidup menjadi alasan terbesar di balik keinginan tersebut. Sebanyak 53 persen responden di Inggris mengaku terdorong pindah karena tekanan ekonomi. Angka serupa juga terlihat di Prancis (48 persen), Jerman (43 persen), dan Italia (32 persen).

Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan biaya hidup tidak hanya dirasakan di satu negara. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya perumahan, hingga tekanan ekonomi membuat semakin banyak orang mulai mencari tempat tinggal yang dinilai lebih nyaman dan terjangkau.

Baca juga: PM Anwar Ibrahim Bakal Usir Warga Israel dari Malaysia

Spanyol Jadi Destinasi Favorit

Dari berbagai negara tujuan yang dipilih responden, Spanyol muncul sebagai negara tujuan yang paling banyak diminati.

Warga Inggris dan Italia paling banyak memilih Spanyol sebagai tempat untuk memulai hidup baru. Sementara itu, responden dari Prancis dan Jerman juga menempatkan negara tersebut di daftar tujuan favorit mereka.

Meski demikian, setiap negara tetap memiliki preferensi berbeda. Responden asal Prancis paling banyak memilih Kanada, sedangkan warga Jerman lebih tertarik pindah ke Austria yang lokasinya masih berdekatan.

Berbeda dengan negara lain, warga Inggris justru lebih terbuka untuk pindah ke destinasi yang lebih jauh. Australia, Kanada, dan Selandia Baru menjadi tiga pilihan utama mereka.

Baca juga: Alasan Kesehatan, Presiden Bangladesh Mengundurkan Diri

Tren Pindah Negara Mulai Berubah

Survei ini juga menyoroti perubahan cara pandang masyarakat terhadap kehidupan di luar negeri.

Pakar perjalanan sekaligus pembawa acara The Travel Diaries, Holly Rubenstein, menilai konsep ekspatriat kini semakin fleksibel. Banyak orang tidak lagi ingin menetap selamanya di satu negara, tetapi memilih tinggal sementara sambil bekerja secara jarak jauh.

“Versi baru kehidupan ekspatriat jauh lebih fleksibel. Orang bisa tinggal enam bulan di suatu tempat, bekerja dari jarak jauh, mencoba gaya hidup baru, lalu membangun koneksi di beberapa negara,” ujar Holly Rubenstein.

Menurutnya, tren tersebut akan semakin berkembang di masa depan. Generasi muda diperkirakan tidak lagi memandang karier, pertemanan, maupun identitas sebagai sesuatu yang harus terikat pada satu negara.

Kemajuan teknologi dan semakin luasnya peluang bekerja secara remote membuat perpindahan lintas negara kini menjadi pilihan yang lebih realistis. Bagi banyak orang, pindah ke luar negeri bukan lagi sekadar mengejar karier, tetapi juga mencari kualitas hidup yang lebih baik.

Baca juga: Bising dan Ganggu Tetangga, Pria di Kyoto Ditangkap Polisi