Jakarta – Setelah lebih dari tiga dekade sejak pertama kali dipentaskan, Rumah Sakit Jiwa akhirnya kembali naik panggung. Lakon legendaris karya N. Riantiarno itu akan dipentaskan lagi oleh Teater Koma bersama Bakti Budaya Djarum Foundation.
Pementasan lakon ini dijadwalkan pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Bukan sekadar menghadirkan nostalgia, pementasan ini juga mengajak penonton melihat kembali persoalan-persoalan yang masih terasa dekat dengan kehidupan saat ini. Mulai dari relasi kuasa, dinamika sosial, hingga perjuangan seseorang yang berusaha mengubah sistem yang sudah mengakar.
Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation, Billy Gamaliel, mengatakan teater masih memiliki tempat yang istimewa di tengah beragam pilihan hiburan saat ini karena mampu menghadirkan pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh media lain.
“Di tengah begitu banyak pilihan hiburan saat ini, seni pertunjukan teater tetap memiliki tempat yang istimewa karena menghadirkan pengalaman yang hanya dapat dirasakan ketika penonton dan pemain berbagi ruang dan waktu yang sama. Kedekatan itulah yang membuat teater terus relevan,” ujar Billy dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Menurutnya, dukungan terhadap pementasan seperti Rumah Sakit Jiwa diharapkan dapat mendorong semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal teater sebagai pengalaman budaya yang bermakna.
Manusia dan sistem yang sulit berubah
Rumah Sakit Jiwa mengisahkan Rogusta, seorang dokter baru yang mulai bekerja di sebuah rumah sakit jiwa yang dipimpin Profesor Sidarita. Berbekal keyakinan bahwa pendekatan yang lebih manusiawi dapat membantu proses penyembuhan pasien, Rogusta mencoba membawa cara pandang baru ke lingkungan kerjanya.
Namun, perubahan yang ia lakukan justru memunculkan benturan dengan sistem yang telah lama berjalan. Dari sinilah cerita berkembang menjadi refleksi mengenai kekuasaan, kemanusiaan, dan pertanyaan besar yang masih relevan hingga sekarang: apakah dunia yang kita tinggali perlahan berubah menjadi sebuah “rumah sakit jiwa”?
Sutradara Rangga Riantiarno mengatakan lakon ini tidak hanya berbicara tentang sebuah institusi kesehatan, melainkan tentang manusia beserta berbagai persoalan yang mengitarinya.
“Sejak pertama kali dipentaskan pada tahun 1991, Rumah Sakit Jiwa bukan semata-mata bercerita tentang sebuah institusi, tetapi tentang manusia dan berbagai persoalan yang mengitarinya. Itulah sebabnya kami merasa lakon ini masih relevan hari ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan proses produksi kali ini tetap mempertahankan pendekatan yang dilakukan saat pementasan perdana puluhan tahun lalu.
Para pemain tidak hanya membaca naskah dan berlatih di ruang latihan, tetapi juga melakukan observasi ke rumah sakit jiwa serta berdiskusi dengan psikolog klinis dan psikiater agar mampu memahami karakter yang mereka perankan secara lebih utuh.
Kostum hingga musik memperkuat cerita
Selain pendalaman karakter, pementasan ini juga memberi perhatian besar pada aspek visual. Perancang busana Samuel Wattimena bersama Rima Ananda merancang kostum yang bukan hanya mencerminkan profesi setiap tokoh, tetapi juga memperlihatkan perkembangan karakter sepanjang cerita.
“Kami tidak ingin kostum hanya menjadi pelengkap visual. Setiap rancangan dibuat untuk membantu penonton mengenali karakter, latar belakang, hingga perubahan yang dialami masing-masing tokoh sepanjang cerita,” kata Samuel.
Dari sisi musikal, pertunjukan didukung komposisi karya Fero A. Stefanus yang dirancang mengikuti dinamika emosi di setiap adegan. Musik menjadi salah satu elemen penting yang memperkuat suasana sekaligus mengiringi perjalanan emosional para tokohnya di atas panggung.
Ratna Riantiarno ikut kembali
Salah satu momen yang paling dinantikan dalam pementasan ini adalah kembalinya Ratna Riantiarno memerankan tokoh Ibu dr. Rogusta, karakter yang juga ia mainkan saat lakon ini pertama kali dipentaskan puluhan tahun lalu.
Menurut Ratna, kembali memerankan karakter tersebut menghadirkan pengalaman yang berbeda karena perjalanan hidup selama 35 tahun membuatnya melihat Rogusta dari sudut pandang baru.
“Kembali menjadi Ibu dr. Rogusta setelah 35 tahun rasanya seperti bertemu kembali dengan seorang sahabat lama. Naskahnya tetap sama, namun pengalaman hidup selama puluhan tahun membuat saya melihat Rogusta dengan sudut pandang yang berbeda dan menemukan banyak lapisan baru dalam karakternya,” ujarnya.
Ratna yang juga menjadi produser pementasan mengatakan dedikasi seluruh tim membuat Rumah Sakit Jiwa kembali hadir sebagai salah satu pertunjukan yang paling berkesan dalam perjalanan Teater Koma.
Jadwal pementasan
Rumah Sakit Jiwa akan dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026.
Pertunjukan digelar setiap pukul 19.30 WIB, sementara khusus Sabtu (1 Agustus) tersedia dua jadwal, yakni pukul 13.30 WIB dan 19.30 WIB. Adapun pada Minggu (2 Agustus) pertunjukan berlangsung pukul 13.30 WIB.
Tiket pementasan dapat diperoleh melalui situs resmi Teater Koma maupun platform penjualan tiket yang telah ditentukan.



