Tiga Film Pendek Playvul NYRA Tembus Festival Film Internasional

William Ciputra14 Agustus 2026

JakartaFilm pendek Indonesia terus menemukan ruang di panggung perfilman internasional. Salah satunya datang dari rumah produksi Playvul NYRA.

Tiga film pendek yang diproduksi Playvul NYRA berhasil tembus festival film dunia. Ketiganya adalah More Pain, More Gain, Ambang Batas, dan Salam Dahsyat Fantastis Luar Biasa.

Ketiganya telah diputar dan berkompetisi di sejumlah festival, seperti Fantasia International Film Festival, Tampere Film Festival, Balinale, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), hingga Short Shorts Film Festival & Asia di Tokyo.

Setelah melewati perjalanan festival tersebut, Ambang Batas kini dapat ditonton secara gratis melalui kanal YouTube Playvul NYRA.

Co-Director Playvul NYRA Nadina Habsjah menyampaikan, medium ini memungkinkan kami menyampaikan keresahan secara lebih fokus dan dekat dengan penonton.

“Melihat semakin banyaknya film pendek Indonesia yang mendapat tempat di festival internasional, kami percaya ada ruang yang semakin besar bagi cerita-cerita yang berani dan relevan untuk didengar di tingkat global,” ujar, dikutip Jumat (14/8/2026).

Pilihan untuk berkarya melalui film pendek juga sejalan dengan semakin luasnya kehadiran film Indonesia di festival internasional.

Riset Cinema Poetica mencatat jumlah film Indonesia yang diputar di festival internasional meningkat dari 73 judul pada 2023 menjadi 126 judul pada 2025.

Baca juga: Bunga di Tepi Jurang Sajikan Drama tentang Luka dan Harapan

Film-film tersebut tersebar di 91 festival di 36 negara. Dari 48 penghargaan internasional yang diraih film Indonesia, 23 di antaranya diberikan kepada film fiksi pendek.

Bagi Playvul NYRA, film pendek menjadi ruang untuk mengeksplorasi gagasan yang mungkin belum mendapatkan tempat di medium lain. Ketiga filmnya pun hadir dengan genre dan cerita yang berbeda.

More Pain, More Gain mengeksplorasi body horror dengan pendekatan satir. Film tersebut meraih penghargaan Winner Short Film Competition di Stockholm International Fantastic Film Festival dan Monsters of Film 2024.

Film ini juga menjadi Official Selection di Fantasia International Film Festival 2025, Fantaspoa 2025, dan Lift-Off Global Network Berlin 2025.

Sementara Ambang Batas membawa pendekatan thriller psikologis dan terpilih di dua festival Oscar-qualifying, yakni Tampere Film Festival melalui kompetisi Generation XYZ dan Balinale.

Film tersebut juga diputar di Final Girls Berlin Film Festival, London International Fantastic Film Festival, Anatolia International Film Festival, dan Cyprus International Film Festival.

Karya ketiga, Salam Dahsyat Fantastis Luar Biasa, melanjutkan eksplorasi Playvul NYRA terhadap isu sosial melalui pendekatan genre yang berbeda.

Film ini meraih penghargaan Winner 2026 Tapestry of Indonesia Balinale dan menjadi bagian dari kompetisi Live-Action Asia International Competition di Short Shorts Film Festival & Asia 2026 di Tokyo.

Film tersebut juga diputar di JAFF. Ketiga karya itu memperlihatkan bagaimana Playvul NYRA menggunakan genre sebagai cara untuk membicarakan persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sosial.

Isu seperti toxic masculinity, dinamika kultus modern, hingga kekerasan seksual terhadap perempuan menjadi bagian dari keresahan yang kemudian diterjemahkan ke dalam cerita.

“Setiap karya yang kami buat selalu berangkat dari keresahan yang nyata, lalu diterjemahkan menjadi cerita yang mengajak penonton memahami kompleksitas manusia,” kata Yusgunawan Marto, Co-Director Playvul NYRA.

Pendekatan tersebut juga terlihat dalam Ambang Batas yang mengangkat isu consent dan kekerasan seksual.

Bagi penulis Amanda Simandjuntak, proses mengembangkan cerita tersebut membutuhkan riset dan diskusi yang panjang agar isu yang diangkat tetap terasa dekat dengan realitas.

“Menulis cerita tentang consent dan kekerasan seksual bukan hal yang mudah. Saya ingin penonton merasa dipahami, bukan dihakimi,” ujar Amanda.

Perjalanan ketiga film tersebut menjadi bagian dari langkah Playvul NYRA untuk terus mengembangkan karya dengan perspektif yang beragam.

Ke depan, rumah produksi ini juga membuka ruang kolaborasi dengan komunitas film Indonesia serta menyiapkan pengembangan karya dalam format feature film dan series.

Baca juga: Syuting Berbagi Suami 2.0 Rampung, Tayang Tahun Depan