Wajah Ibu Kota dalam Wastra di IFW 2026

William Ciputra31 Juli 2026

Jakarta – Sebuah kota tak selalu dikenang lewat gedung-gedung tinggi atau jalanannya yang tak pernah benar-benar sepi. Kota juga bisa ditampilkan dalam sebuah wastra.

Pemandangan itu yang tampak dalam gelaran Indonesia Fashion Week (IFW) 2026. Pada gelaran hari kedua, Ragamkultura Jakarta menampilkan wajah ibu kota dalam sehelai wastra yang merekam jejak budaya, ruang hidup, hingga kisah orang-orang yang tumbuh bersamanya. 

Inisiatif ini digerakkan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta yang menggandeng sembilan jenama wastra binaannya.

Inspirasinya beragam. Mulai dari flora yang tumbuh di tengah kota, arsitektur Betawi, kawasan pesisir, hingga kisah perempuan-perempuan pembatik.

Berbeda sumber cerita, tetapi seluruh koleksi bermuara pada satu gagasan: Jakarta adalah rumah bagi beragam kultur yang terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya.

Baca juga: Garut Bakal Disulap Jadi Laboratorium Kemitraan Industri Italia–Indonesia

Cerita Kota Tertuang dalam Motif Batik

Salah satu jenama yang tampil adalah Batik Riana. Menurut penggiat Batik Riana, Riana Kusuma Astuti, inspirasi dari karyanya ini justru muncul dari hal yang sederhana, yaitu kembang sepatu yang ia temukan tumbuh di pinggir jalan.

Bunga tersebut kemudian dipadukan dengan motif Tumpal Pasung Betawi. Perpaduannya melahirkan koleksi yang menggambarkan Jakarta sebagai kota yang terus bergerak maju tanpa melepaskan akar budayanya.

“Ide-ide kreatif itu muncul dari kebiasaan sehari-hari, seperti melihat kembang sepatu lalu dijadikan batik sehingga menjadi satu cerita tersendiri tentang Jakarta,” ujar Riana, Kamis (30/7/2026).

Cerita lain dibawa Batik Marunda melalui koleksi Sampir Jakarta. Pendiri Batik Marunda, Irma Dharma Sinurat, memaknai sampir sebagai simbol keterbukaan.

Menurut Irma, keterbukaan ini sama dengan kota Jakarta yang sejak lama menjadi tempat bertemunya beragam budaya dan latar belakang masyarakat.

Namun, koleksi tersebut bukan hanya berbicara tentang filosofi. Setiap helai batik dibuat oleh perempuan penghuni Rusunawa Marunda yang sebelumnya mengikuti program pemberdayaan membatik.

Dari tangan mereka lahir motif flora, fauna, hingga ikon Jakarta yang kemudian tampil di salah satu panggung mode terbesar di Indonesia.

“Kami ingin bercerita tentang betapa indahnya Jakarta lewat sehelai kain, dan itu akan menjadi legacy untuk kota Jakarta,” kata Irma.

Semangat serupa juga terlihat pada koleksi Batik Mamauty yang memilih pendekatan kasual agar wastra lebih dekat dengan generasi muda.

Sementara Lian Indonesia menerjemahkan keragaman flora ibu kota ke dalam koleksi bertajuk Simfoni Jakarta, yang memadukan warna dan motif sebagai simbol harmoni di tengah keberagaman.

Melalui Ragamkultura Jakarta, wastra tak hanya tampil sebagai karya fesyen. Setiap motif menjadi cara baru untuk membaca sebuah kota, tentang sejarah yang diwariskan, budaya yang terus hidup, dan identitas Jakarta yang terus berkembang mengikuti zamannya.

Baca juga: Dahlia Hadirkan Pengalaman Fragrance di IFW 2026