Fakta-fakta B50 Biodiesel, Apa Bedanya dengan Solar Biasa?

William Ciputra16 Juli 2026

Jakarta – Pengguna kendaraan diesel kini mulai menemukan B50 Biodiesel di sejumlah SPBU Pertamina. Kehadiran B50 menjadi bagian dari program mandatori biodiesel pemerintah yang mulai diterapkan pada Juli 2026.

Pemerintah menegaskan, penerapan B50 Biodiesel merupakan upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor solar sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan berbasis sawit.

Lalu, apa sebenarnya B50 Biodiesel? Apa bedanya dengan solar biasa, dan apakah aman digunakan pada kendaraan diesel? Berikut fakta-faktanya.

1. B50 campuran biodiesel dan solar

B50 Biodiesel adalah bahan bakar diesel yang terdiri dari 50 persen biodiesel berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang berasal dari minyak sawit dan 50 persen solar fosil. Angka “50” mengacu pada persentase kandungan biodiesel di dalamnya.

Program ini merupakan kelanjutan dari B40 yang sebelumnya telah diterapkan pemerintah. Dengan meningkatkan kadar biodiesel menjadi 50 persen, pemerintah berharap pemanfaatan bahan bakar nabati dalam negeri semakin besar sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar fosil.

2. Apa bedanya dengan solar biasa?

Perbedaan paling mendasar terletak pada komposisi bahan bakarnya. Solar konvensional sepenuhnya berasal dari minyak bumi, sedangkan B50 merupakan campuran solar dengan biodiesel berbahan baku minyak sawit.

Karena mengandung biodiesel dalam porsi yang lebih besar, B50 diharapkan mampu menekan emisi sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM.

Selain itu, pemerintah juga memperkirakan kebutuhan minyak sawit untuk program biodiesel akan meningkat seiring implementasi B50 secara nasional.

3. Mengurangi ketergantungan impor solar

Salah satu alasan utama penerapan B50 adalah memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan semakin banyak menggunakan biodiesel produksi dalam negeri, kebutuhan impor solar diharapkan dapat ditekan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan implementasi B50 menjadi langkah penting dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar impor.

“Dengan implementasi B50, maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita. Ini adalah pertama kali,” ujar Bahlil, dikutip Kamis (16/7/2026).

Selain itu, pemerintah memperkirakan program B50 dapat meningkatkan penyerapan crude palm oil (CPO) domestik sekaligus menghemat devisa negara dibandingkan skema B40 sebelumnya.

4. Aman untuk kendaraan diesel?

Pertanyaan ini menjadi salah satu yang paling banyak muncul sejak B50 mulai diterapkan. Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan Kementerian ESDM, B50 dinyatakan aman digunakan pada kendaraan diesel selama bahan bakar memenuhi standar kualitas dan kendaraan dirawat sesuai rekomendasi pabrikan.

Hal senada juga disampaikan oleh akademisi dari Universitas Sumatera Utara. Dalam penjelasannya, B50 aman digunakan selama distribusi bahan bakar berlangsung dengan baik serta komponen kendaraan seperti filter, tangki, dan selang tetap berada dalam kondisi prima.

Meski demikian, kandungan biodiesel yang lebih tinggi membuat perawatan berkala tetap perlu diperhatikan, terutama pada kendaraan yang digunakan dalam jangka panjang.

5. Sudah mulai bisa dibeli di SPBU Pertamina

Seiring dimulainya program mandatori B50, distribusi bahan bakar ini juga mulai dilakukan melalui jaringan SPBU Pertamina secara bertahap. Artinya, pengguna kendaraan diesel akan mulai menjumpai B50 sebagai pilihan bahan bakar, meski ketersediaannya bisa berbeda di setiap daerah pada masa awal implementasi.

Bagi masyarakat, kehadiran B50 bukan sekadar menghadirkan jenis BBM baru, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional.

Di sisi lain, pengguna kendaraan diesel tetap perlu memastikan kendaraannya mendapatkan perawatan rutin agar performa mesin tetap optimal saat menggunakan bahan bakar dengan kandungan biodiesel yang lebih tinggi.