Jakarta – Dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni lalu terus meninggalkan dampak kemanusiaan yang besar. Hingga kini, jumlah korban tewas dilaporkan meningkat menjadi 4.490 orang.
Presiden Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez, melalui akun Telegram resminya pada Minggu (12/7/2026), mengatakan jumlah korban luka tercatat 16.740 orang, sedangkan 6.462 orang berhasil dievakuasi dalam operasi pencarian dan penyelamatan yang masih berlangsung.
Menurut data terbaru pemerintah, sedikitnya 17.907 warga kehilangan tempat tinggal setelah gempa meratakan permukiman di sejumlah wilayah.
Gempa terkuat dalam lebih dari satu abad
Bencana bermula ketika dua gempa berkekuatan Magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang ibu kota Caracas serta negara bagian pesisir La Guaira pada 24 Juni 2026. Gempa berkekuatan 7,5 disebut sebagai yang terkuat yang melanda Venezuela dalam lebih dari 100 tahun terakhir.
Getaran kuat menyebabkan puluhan ribu bangunan mengalami kerusakan. Sejumlah apartemen runtuh, sementara kawasan La Guaira menjadi wilayah yang mengalami dampak paling parah dengan ratusan bangunan ambruk dan ribuan lainnya rusak berat.
Akibat kerusakan tersebut, ribuan keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mencari perlindungan di lokasi-lokasi pengungsian darurat.
Ribuan warga masih bertahan di pengungsian
Pemerintah bersama relawan lokal maupun internasional mendirikan kamp-kamp sementara di stadion, alun-alun, hingga trotoar untuk menampung para penyintas.
Selain menyediakan tempat berlindung, para relawan juga memberikan layanan kesehatan, makanan, serta bantuan kebutuhan dasar bagi warga terdampak.
Rodriguez mengatakan pada Sabtu (11/7/2026), lebih dari 19 ribu orang masih tinggal di kamp-kamp pengungsian sambil menunggu kepastian mengenai tempat tinggal mereka.
Pemerintah Venezuela memperkirakan sedikitnya 25 ribu unit rumah perlu dibangun untuk menampung masyarakat yang kehilangan hunian akibat gempa tersebut.
Sebagai langkah awal, pemerintah telah menyiapkan lebih dari 40 bidang lahan di La Guaira dengan luas total sekitar 584 ribu meter persegi. Kawasan tersebut berada di dataran yang dinilai lebih aman dibanding wilayah pesisir yang mengalami kerusakan paling parah.
Rodriguez juga mengatakan pemerintah akan mulai menyerahkan sejumlah unit apartemen yang sebelumnya masih dalam tahap pembangunan kepada keluarga terdampak dalam beberapa hari ke depan.
Ancaman berikutnya: Penyakit
Di tengah proses penyelamatan yang masih berlangsung, tenaga kesehatan mulai mengingatkan potensi munculnya masalah baru di lokasi bencana.
Kepala Unit Trauma Hospital del Oeste Dr. José Gregorio Hernández di Caracas, Eugenio Cova, mengatakan para penyintas yang telah lama berada di lokasi bencana berisiko mengalami berbagai infeksi apabila penanganan tidak segera dilakukan.
“Masalah yang kami perkirakan akan segera muncul adalah infeksi yang mungkin dialami pasien yang paling lama terpapar kondisi pascabencana,” ujar Cova, dikutip dari Independent, Senin (13/7/2026).
Pencarian korban masih terus dilakukan
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan sekitar 50 ribu orang masih dinyatakan hilang. Namun hingga kini pemerintah Venezuela belum mengeluarkan angka resmi mengenai jumlah warga yang belum ditemukan.
Menanggapi kekhawatiran bahwa proses pembersihan puing-puing dapat menghambat pencarian korban, Rodriguez menegaskan operasi penyelamatan akan tetap menjadi prioritas.
“Operasi pencarian akan terus berlanjut,” kata Rodriguez, seraya menepis kekhawatiran bahwa puing-puing bangunan akan dibersihkan sebelum seluruh korban yang masih hilang berhasil ditemukan.
Di sisi lain, pemerintah Venezuela juga menghadapi kritik karena dinilai lambat merespons situasi pada 48 hingga 72 jam pertama setelah gempa terjadi.
Sejumlah pihak menuding koordinasi penanganan bencana belum berjalan optimal dan pemerintah sempat dianggap meremehkan besarnya jumlah korban pada fase awal bencana.



