Search

Gerakan Matahati dan JEC Fasilitasi Operasi Katarak Gratis bagi 101 Pasien

William Ciputra•13 Oktober 2026

Tim dokter JEC Eye Center Kedoya sedang melakukan operasi katarak pasien. (Dok. Urbanstories)

Jakarta – Gerakan Matahati bersama JEC Eye Hospitals and Clinics, Lions Eye Bank Jakarta (LEBJ), dan Lions Club Indonesia menyiapkan operasi katarak gratis bagi 101 pasien sepanjang Oktober hingga Desember 2026.

Program ini dimulai melalui seremoni kick-off di RS Mata JEC @ Kedoya, bertepatan dengan peringatan World Sight Day 2026, Kamis (8/10/2026).

Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan 101 tahun Pandji Wisaksana, pendiri Gerakan Matahati. Kegiatan ini juga mendukung target Matahati untuk memfasilitasi 1.010 operasi katarak gratis bagi masyarakat hingga akhir tahun.

Upaya memperluas akses operasi katarak masih dibutuhkan di tengah tingginya angka gangguan penglihatan di Indonesia.

Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 600.000–650.000 kasus kebutaan akibat katarak sepanjang 2025. Katarak juga menjadi penyebab utama kebutaan pada penduduk berusia di atas 50 tahun, dengan proporsi mencapai 81,2 persen.

Secara global, World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 94 juta orang mengalami katarak. Hampir separuh orang yang mengalami kebutaan terkait katarak masih membutuhkan akses operasi.

Di Indonesia, kebutuhan layanan kesehatan mata turut meningkat seiring bertambahnya populasi lanjut usia, yang mencapai 11,97 persen pada 2025.

Katarak dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan mengurangi kemandirian seseorang. Oleh karnena itu, akses terhadap pemeriksaan dan penanganan yang tepat menjadi penting, terutama bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan untuk mendapatkan layanan operasi.

Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics, Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiarjo, SpM(K), mengatakan perluasan layanan melalui jaringan rumah sakit menjadi salah satu cara untuk mendekatkan penanganan katarak kepada masyarakat.

“Katarak dapat berdampak besar pada kemandirian seseorang karena penglihatan sangat menentukan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, akses terhadap penanganan yang tepat perlu semakin dekat dengan masyarakat,” ujar Prof. Tjahjono.

Baca juga: Cuaca Ekstrem dan Paparan Sinar Matahari Bisa Tingkatkan Risiko Katarak!

Dalam program ini, sebanyak 101 pasien akan mendapat layanan di 16 lokasi jaringan JEC, yang ditargetkan menjangkau masyarakat di Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, hingga Sulawesi.

Pelayanan dilakukan melalui rangkaian yang terkoordinasi, mulai dari penjaringan calon penerima manfaat, skrining, operasi, hingga pemantauan setelah tindakan.

Prof Tjahjono menyebutkan, JEC menyediakan dokter spesialis mata, perawat, tenaga kesehatan, fasilitas pemeriksaan, dan ruang operasi.

Leterlibatan jaringan JEC juga melanjutkan upaya lembaga tersebut dalam memberikan layanan bagi masyarakat yang membutuhkan. Sejauh ini JEC Group telah melakukan lebih dari 40.000 operasi katarak tanpa biaya.

“Melalui jaringan JEC Group di berbagai wilayah Indonesia, kami berupaya menghadirkan layanan katarak dengan standar internasional yang konsisten di setiap cabang. Komitmen untuk memperluas akses tersebut juga kami wujudkan melalui program sosial,” kata Prof. Tjahjono.

Di sisi lain, Gerakan Matahati menggerakkan program dan menghimpun dukungan para mitra serta donatur.

Gerakan kemanusiaan di bidang kesehatan mata ini diprakarsai Pandji Wisaksana dan diresmikan pada 2008 untuk membantu masyarakat memperoleh akses terhadap penanganan gangguan penglihatan.

Wandi S. Brata, Ketua Pelaksana Matahati, mengatakan kolaborasi berbagai pihak menjadi bagian penting dari perjalanan gerakan tersebut. Hingga kini, Matahati telah membantu memfasilitasi 27.500 operasi katarak tanpa biaya.

“Program ini melanjutkan perjalanan tersebut sekaligus menjadi penghormatan atas 101 tahun Bapak Pandji Wisaksana. Bagi kami, semangat yang beliau rintis akan terus berarti selama dapat diteruskan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Wandi.

Bagi keluarga almarhum Pandji Wisaksana, jumlah 101 pasien juga memiliki makna tersendiri karena menghubungkan peringatan usia sang pendiri dengan manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

Satria Laksmana Pandji atau Stephen Pandji, perwakilan keluarga sekaligus wakil dari Matahati, mengatakan bahwa meneruskan nilai yang diwariskan menjadi bentuk penghormatan yang bermakna.

“Bagi keluarga, penghormatan terbaik bukan hanya mengenang Bapak Pandji, tetapi meneruskan nilai yang beliau jalankan sepanjang hidupnya. Karena itu, 101 tahun perjalanan beliau kami wujudkan melalui manfaat bagi 101 pasien,” kata Stephen.

Program ini juga bertepatan dengan World Sight Day 2026 yang mengusung semangat “Love Your Eyes”.

Momentum tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat untuk menjaga kesehatan mata, mengenali perubahan penglihatan, dan melakukan pemeriksaan ketika mulai mengalami keluhan.

Baca juga: Pentingnya Menjaga Keseimbangan Bakteri dalam Mulut