Jakarta – Ada orang yang baru bisa terlelap kalau suara kipas angin menyala. Ada juga yang sengaja memutar suara hujan, ombak, podcast, atau bahkan membiarkan televisi tetap hidup sebagai “teman tidur”. Kalau kamu termasuk salah satunya, ternyata kebiasaan ini bukan hal yang aneh.
Menurut para ahli, sebagian orang memang membutuhkan suara latar (background noise) agar lebih mudah rileks dan tertidur. Suara tersebut membantu otak mengalihkan perhatian dari gangguan di sekitar maupun pikiran yang terus aktif menjelang waktu tidur.
Salah satu jenis suara yang paling sering digunakan adalah white noise, yaitu merupakan suara konstan yang menggabungkan berbagai frekuensi sehingga terdengar seperti desisan halus, misalnya dengungan kipas angin, AC, atau mesin white noise.
Ada pula brown noise, yaitu suara bernada lebih rendah yang terdengar lebih dalam, seperti suara hujan deras, ombak, atau air terjun. Keduanya dipercaya dapat membantu menyamarkan suara-suara lain yang mengganggu sehingga tidur terasa lebih nyenyak.
Lantas, mengapa ada orang yang justru sulit tidur ketika suasana terlalu sunyi? Berikut penjelasan para ahli.
Pikiran sulit tenang
Kalau kamu sering berbaring sambil memikirkan pekerjaan yang belum selesai, tugas kuliah, atau kejadian yang membuat malu sepanjang hari, keheningan justru bisa membuat pikiran semakin aktif.
Director of Sleep Health di Sleepopolis, Shelby Harris, mengatakan kondisi ini umum terjadi pada orang yang memiliki kecemasan. Saat suasana benar-benar sunyi, otak cenderung lebih fokus pada berbagai pikiran yang terus bermunculan.
Dokter keluarga dari Providence St. Joseph Hospital, California, Dr. Neal Harish Patel, menambahkan bahwa suara latar membantu mengalihkan perhatian sehingga seseorang tidak terus-menerus larut dalam pikirannya sendiri. Dengan begitu, tubuh lebih mudah memasuki kondisi rileks sebelum tidur.
Menutupi suara yang mengganggu
Bagi sebagian orang, suara latar bukan sekadar menenangkan, tetapi juga berfungsi menutupi kebisingan lain yang muncul di malam hari.
Suara kendaraan, sirene, tetangga yang masih beraktivitas, atau pintu yang dibuka-tutup bisa membuat tidur mudah terganggu. White noise bekerja seperti “selimut suara” yang membuat gangguan tersebut tidak terlalu terasa sehingga otak tidak mudah terbangun.
Klinisi di Rise Science sekaligus spesialis tidur bersertifikat, Daniella Marchetti, mengatakan white noise bermanfaat bagi penderita tinnitus, yaitu kondisi telinga berdenging tanpa adanya sumber suara dari luar.
Selain itu, metode ini juga sering membantu pekerja shift malam yang harus tidur pada siang hari ketika lingkungan masih ramai. Meski demikian, ia menyarankan volume suara tetap dijaga di bawah 60 desibel, atau setara dengan percakapan biasa.
Memiliki ADHD
Orang dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) juga cenderung lebih nyaman tidur dengan suara latar. Menurut Harris, suara yang stabil membantu sebagian penderita ADHD lebih mudah fokus sekaligus menenangkan pikiran menjelang tidur.
Selain white noise, kualitas tidur mereka juga dapat ditingkatkan melalui rutinitas tidur yang konsisten, penerapan sleep hygiene, hingga penanganan medis sesuai kebutuhan.
Terbiasa dengan kebisingan
Kehidupan modern membuat kita hampir tidak pernah benar-benar berada dalam suasana sunyi. Sepanjang hari, otak terbiasa mendengar suara kendaraan, percakapan, televisi, notifikasi ponsel, hingga dengungan berbagai peralatan elektronik.
Dr. Patel menjelaskan bahwa ketika semua suara itu mendadak hilang saat malam tiba, sebagian orang justru merasa ada yang “kurang”. Akibatnya, otak menjadi lebih sulit rileks karena sudah terbiasa dengan adanya suara latar sepanjang hari.
Terbentuk dari kebiasaan
Cara seseorang tidur juga bisa dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia tumbuh. Orang yang sejak kecil terbiasa tidur di rumah yang ramai, berbagi kamar dengan saudara, atau tinggal bersama banyak anggota keluarga biasanya lebih mudah terlelap ketika masih ada suara di sekitarnya.
Sebaliknya, jika seseorang terus membiasakan diri tidur sambil memutar musik, televisi, atau white noise, otaknya akan menganggap suara tersebut sebagai bagian dari rutinitas sebelum tidur.
Dr. Patel mengatakan otak dapat “dilatih” untuk mengaitkan suara tertentu dengan waktu tidur. Oleh karena itu, semakin sering kebiasaan tersebut dilakukan, semakin besar kemungkinan seseorang merasa membutuhkannya setiap malam.
Merasa lebih aman
Alasan terakhir ternyata lebih bersifat emosional. Bagi sebagian orang, suara latar membuat mereka merasa tidak sendirian.
Menurut Dr. Patel, ada orang yang merasa lebih nyaman ketika keheningan diisi oleh suara percakapan, musik, atau televisi. Kehadiran suara tersebut memberikan sensasi seolah masih ada orang lain di sekitar sehingga rasa sepi berkurang dan tubuh menjadi lebih rileks.
Pada akhirnya, tidur menggunakan white noise bukan berarti seseorang mengalami gangguan kesehatan. Selama volume suara tetap aman dan kualitas tidur justru membaik, kebiasaan tersebut masih tergolong normal.
Namun, bila kamu sama sekali tidak bisa tidur tanpa suara latar atau terus mengalami gangguan tidur dalam jangka panjang, berkonsultasi dengan tenaga medis bisa menjadi langkah yang tepat untuk mengetahui penyebabnya.
Sumber: Huffpost



