Jakarta – Obesitas bukan sekadar berat badan berlebih. Dalam kondisi tertentu, obesitas perlu penanganan medis seperti terapi obat-obatan.
Dokter Spesialis Endokrinologi, Metabolik, dan Diabetes dari Eka Hospital BSD, Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo menjelaskan, terapi obat bisa dipertimbangkan ketika terjadi perubahan pola makan dan aktivitas fisik belum membuahkan hasil optimal.
“Terapi obat mulai dipertimbangkan apabila pasien mengalami obesitas yang disertai penyakit penyerta seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, gangguan kolesterol,” katanya dalam diskusi media di Tangerang, Sabtu (8/8/2026).
Perubahan gaya hidup tetap menjadi pilar utama dalam penanganan obesitas. Pengaturan pola makan dan aktivitas fisik perlu dilakukan secara konsisten.
Prof Sidartawan melanjutkan, obesitas juga memiliki kaitan erat dengan diabetes tipe 2. Hal ini karena penumpukan lemak membuat jaringan tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin.
Baca juga: Kista Endometriosis Bikin Sulit Hamil? Begini Kata Dokter
Sebagai informasi, insulin adalah hormon yang diproduksi pankreas untuk membantu sel menyerap dan mengolah gula darah menjadi energi.
Ketika resistensi insulin terjadi, pankreas harus bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin agar kadar gula darah tetap stabil.
Jika berlangsung dalam jangka panjang, pankreas dapat mengalami penurunan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan insulin tubuh.
Akibatnya, glukosa semakin menumpuk di dalam aliran darah hingga akhirnya dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2.
Kondisi tersebut membuat penanganan obesitas menjadi bagian penting dalam pengelolaan kesehatan metabolik.
Perkembangan terapi diabetes modern menghadirkan pilihan pengobatan yang tidak hanya membantu mengendalikan gula darah, tetapi juga mendukung penurunan berat badan.
“Salah satunya adalah kelompok GLP-1 receptor agonist serta terapi dual incretin,” imbuhnya.
Golongan obat tersebut bekerja dengan meningkatkan rasa kenyang, memperlambat pengosongan lambung, mengurangi nafsu makan, serta meningkatkan kerja hormon yang berperan dalam mengontrol kadar gula darah.
Berbagai penelitian menunjukkan terapi modern tersebut mampu memberikan penurunan berat badan sekaligus memperbaiki kadar HbA1c.
Pada sebagian pasien, manfaat tersebut juga disertai penurunan risiko penyakit kardiovaskular dan peningkatan kualitas hidup.
Meski demikian, pemilihan terapi tetap harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien melalui evaluasi dokter.
Penggunaan obat juga tetap menjadi bagian dari penanganan komprehensif dan bukan pengganti pola hidup sehat.
Baca juga: Takut Operasi Tiroid Karena Bekas Luka? Coba Metode RFA Tiroid



