Jangan Diabaikan, Benturan Kepala Pesepakbola Bisa Sebabkan Concussion!

William Ciputra23 September 2026

JakartaSepak bola merupakan salah satu olahraga dengan intensitas tinggi. Benturan antarpemain sulit dihindari, termasuk pada bagian kepala yang berisiko menimbulkan cedera serius seperti concussion atau gegar otak.

Masalahnya, concussion termasuk cedera yang sulit diidentifikasi setelah benturan kepala terjadi. Orang yang mengalaminya seringkali merasa sudah “sembuh” padahal kemungkinan terjadinya gegar otak masih cukup besar.

Menurut Neurologist, dr Ferrdy Pratama Wijaya, SpN, concussion atau cedera pada otak baru terlihat ketika pasien mengalami sejumlah red flag setelah benturan.

Red flag-nya meliputi penglihatan kabur, penurunan/hilang kesadaran, kejang, muntah, gangguan koordinasi, kebingungan, nyeri kepala berat yang tidak kunjung membaik,” katanya dalam acara Concussion Awareness Seminar & Talk Show sebagai National Kick-Off dari APPI Concussion Awareness Campaign bersama Eka Hospital di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Ferrdy menambahkan, gaya yang bekerja pada otak bisa menyebabkan cedera meskipun tanpa benturan langsung ke kepala.

Ia mencontohkan beberapa gaya yang bisa menyebabkan cedera pada otak. Salah satunya whiplash injury, yaitu ketika terjadi gerakan kepala ke depan-belakang secara cepat.

Baca juga: Bruno Fernandes Raih Pemain Terbaik PFA 2026

Selain itu, akselerasi dan deselerasi juga berpotensi menyebabkan cedera. Akselerasi terjadi ketika kepala bergerak tiba-tiba dipercepat ke arah tertentu yang menyebabkan otak tertinggal karena inersia.

Beberapa gerakan pada sepak bola yang berpotensi menyebabkan akselerasi ini adalah menendang bola.

Sementara deselerasi terjadi ketika kepala berhenti mendadak, sementara otak masih terus bergerak karena inersia, sehingga menabrak bagian dalam tengkorak.

Beberapa gerakan yang berpotensi menyebabkan deselerasi ini antara lain jatuh ke tanah pada seorang penjaga gawang atau jatuh dari ketinggian.

Gaya berikutnya adalah rotational, yaitu gerakan memutar yang menyebabkan otak mengalami pergeseran, regangan, dan robekan pada serabut saraf. Duel udara sering menyebabkan kondisi ini pada sepak bola.

Dalam kesempatan tersebut, Ferrdy juga mengingatkan risiko jangka panjang concussion atau gegar otak.

Risiko pertama adala gejala persisten. Risiko ini terjadi ketika pasien mengalami sakit kepala kronis, gangguan tidur, gangguan konsentrasi dan memori, vertigo, hingga gangguan mood.

Penurunan fungsi kognitif menjadi risiko berikutnya. Pasien akan mengalami penurunan daya ingat, kesulitan memproses informasi, penurunan fungsi eksekutif, lambat dalam berpikir, hingga performa akademik dan profesional yang menurun.

Berikutnya adalah risiko gangguan kesehatan mental, yang meliputi depresi, kecemasan, mudah marah dan perubahan emosi, gangguan perilaku, hingga risiko penyalahgunaan alkohol/zat adiktif.

Risiko berikutnya adalah penyakit neurodegeneratif. Pasien akan mengalami risiko lebih tinggi terhadap CTE (Chronic Traumatic Encephalopathy), peningkatan risiko demensia, perubahan fungsi otak jangka panjang, hingga gangguan fungsi motorik dan kognitif.

Selain itu, concussion juga berdampak pada fungsi hidup. Pasien akan mengalami penurunan kualitas hidup, kesulitan kembali ke pekerjaan/olahraga, cedera berulang dengan pemulihan lama, isolasi sosial, hingga penurunan produktivitas.

Melihat risiko concussion yang cukup berat tersebut, Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) turut mendorong peningkatan awareness terhadap concussion di kalangan pesepakbola.

Upaya ini salah satunya dilakukan melalui kampanye bertajuk KELAS, yaitu Kenali, Lapor, Stop, yang diluncurkan secara nasional pada Rabu (23/9).

Head Medical Division APPI, dr Donny Kurniawan Sp.KO, menjelaskan, kampanye ini bertujuan meningkatkan pemahaman mengenai concussion di lingkungan sepak bola Indonesia.

“Keputusan yang diambil dalam beberapa menit setelah pemain mengalami cedera kepala dapat berdampak pada kondisi pemain jauh setelah pertandingan berakhir,” kata sosok dokter yang akrab disapa “docbr0” tersebut.

Dalam kampanye ini, APPI mengajak seluruh pihak dalam ekosistem sepak bola Indonesia, termasuk federasi dan liga.

Menurutnya, perlindungan terhadap pemain bukan cuma tanggung jawab tim medis, tetapi juga bergantung kepada kebijakan, kondisi pertandingan, dan keputusan yang dibuat di luar lapangan.

Baca juga: Atlet Indonesia Kini Punya Akses Pendidikan Berstandar Internasional