7 Faktor yang Membuatmu Sakit Kepala saat Bangun Tidur

William Ciputra27 Juli 2026

JakartaBangun tidur seharusnya membuat tubuh terasa segar. Namun, bagi sebagian orang, pagi justru diawali dengan sakit kepala yang berdenyut hingga mengganggu aktivitas sepanjang hari.

Kondisi ini ternyata bukan hal yang langka. Penelitian menunjukkan sekitar satu dari 13 orang mengalami sakit kepala saat bangun tidur. Penyebabnya pun beragam, mulai dari kebiasaan sehari-hari hingga gangguan kesehatan yang selama ini mungkin tidak disadari.

Menurut para ahli, sakit kepala di pagi hari tidak bisa dianggap sepele. Jika terjadi berulang, kondisi tersebut bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki, baik dari pola tidur maupun kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Berikut tujuh penyebab yang paling sering memicu sakit kepala saat bangun tidur.

1. Mengalami Sleep Apnea

Sleep apnea menjadi penyebab paling umum sakit kepala di pagi hari. Gangguan tidur ini membuat saluran napas berulang kali tersumbat ketika seseorang sedang tidur sehingga pasokan oksigen ke tubuh ikut berkurang.

Kondisi tersebut memaksa tubuh bekerja lebih keras sepanjang malam. Akibatnya, sebagian orang terbangun dengan kepala terasa berat atau berdenyut.

“Sebagai dokter spesialis tidur, kami selalu bertanya, ‘Apakah Anda bangun pagi dengan sakit kepala?'” kata Dr. Phyllis Zee, Kepala Sleep Medicine di Northwestern Medicine, melansir The Washington Post.

Menurut Zee, dokter akan menggali gejala lain, seperti mendengkur keras, terbangun sambil terengah-engah, atau mengantuk berlebihan pada siang hari. Jika gejala tersebut muncul bersamaan, sleep apnea patut dicurigai sebagai penyebabnya.

Kabar baiknya, penelitian pada 2023 menunjukkan penanganan sleep apnea mampu mengurangi tingkat keparahan sakit kepala pagi hingga 72 persen.

2. Migrain Datang Saat Menjelang Bangun

Tidak semua sakit kepala di pagi hari merupakan migrain. Namun, migrain memang sering muncul ketika seseorang masih tidur atau tepat menjelang bangun.

Menurut ahli sakit kepala dari Stanford Medicine, Dr. Niushen Zhang, serangan migrain memang memiliki kecenderungan mengikuti ritme biologis tubuh.

Migrain biasanya ditandai dengan nyeri berdenyut di satu sisi kepala. Gejalanya juga dapat disertai mual, muntah, sensitif terhadap cahaya dan suara, nyeri leher, hingga sulit berkonsentrasi.

Pada sebagian orang, migrain juga didahului aura, yaitu gangguan penglihatan seperti kilatan cahaya atau pola zig-zag sebelum nyeri muncul.

Dr. Zhang menambahkan, migrain tidak hanya dialami remaja atau dewasa muda. Gejalanya juga bisa pertama kali muncul saat seseorang memasuki usia 30 hingga 40 tahun.

Baca juga: Gangguan Pencernaan Anak, Kapan Harus ke Dokter?

3. Kurang Tidur atau Insomnia

Tidur yang terlalu singkat atau kualitas tidur yang buruk juga dapat memicu sakit kepala ketika bangun.

Saat tubuh tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup, sistem saraf menjadi lebih sensitif terhadap rasa nyeri. Akibatnya, kepala terasa berat begitu seseorang membuka mata.

“Orang yang mengalami insomnia juga memiliki prevalensi sakit kepala pagi yang sangat tinggi,” ujar Dr. Sait Ashina, ahli saraf dari Harvard Medical School.

Sebuah penelitian bahkan menemukan sekitar 14,4 persen penderita insomnia mengalami sakit kepala kronis di pagi hari. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan orang yang tidur normal.

Ashina juga menjelaskan bahwa insomnia merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko migrain.

4. Posisi Tidur atau Bantal Kurang Tepat

Penyebab berikutnya mungkin terdengar sederhana, tetapi cukup sering terjadi, yaitu posisi tidur yang tidak tepat.

Tidur dengan posisi leher yang kurang nyaman atau menggunakan bantal yang sudah tidak menopang kepala dengan baik dapat membuat otot leher menegang sepanjang malam.

Ketegangan tersebut kemudian menjalar hingga ke kepala. Rasa nyeri biasanya berawal dari leher sebelum menyebar ke bagian depan kepala saat bangun tidur.

Jika keluhan hanya muncul setelah bangun dan membaik setelah bergerak atau mengganti posisi, bisa jadi bantal atau posisi tidur menjadi penyebab utamanya.

5. Menggemeretakkan Gigi Saat Tidur

Sebagian orang tanpa sadar menggemeretakkan atau mengatupkan gigi ketika tidur. Kondisi yang dikenal sebagai bruxism ini dapat membuat otot rahang bekerja terus sepanjang malam.

Akibatnya, otot di sekitar rahang, pelipis, dan kepala menjadi tegang ketika bangun tidur. Selain bruxism, gangguan pada sendi rahang atau temporomandibular disorder (TMD) juga dapat memicu keluhan serupa.

Menurut Dr. Zee, ketegangan pada otot rahang dapat menyebar ke bagian depan kepala karena otot-otot tersebut saling terhubung.

6. Mengalami Depresi atau Kecemasan

Suasana hati ternyata juga berkaitan dengan sakit kepala di pagi hari. Berbagai penelitian menunjukkan orang yang mengalami depresi atau gangguan kecemasan lebih sering mengalami sakit kepala dibandingkan populasi umum.

Para ahli belum mengetahui secara pasti penyebabnya. Namun, depresi dan kecemasan diketahui dapat mengganggu kualitas tidur sekaligus memengaruhi sistem saraf yang mengatur rasa nyeri.

Oleh karena itu, jika sakit kepala sering muncul bersamaan dengan stres berkepanjangan, kehilangan minat, atau kecemasan berlebih, kondisi psikologis juga perlu diperhatikan.

7. Terlalu Banyak Minum Alkohol atau Kopi

Minum alkohol berlebih sudah lama diketahui sebagai penyebab sakit kepala keesokan harinya. Namun, terlalu banyak mengonsumsi kopi juga dapat menimbulkan keluhan yang sama.

Saat seseorang terbiasa minum kopi dalam jumlah besar setiap hari, kadar kafein akan menurun selama tidur. Penurunan tersebut dapat memicu gejala putus kafein berupa sakit kepala ketika bangun.

“Jika kamu minum banyak kopi, kamu bisa mengalami sakit kepala akibat gejala putus kafein ketika bangun tidur karena kadar kafein dalam tubuh menurun,” jelas Dr. Ashina.

Baca juga: 5 Kesalahan Pria dalam Perawatan Kulit yang Sering Dianggap Sepele

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Sakit kepala sesekali setelah kurang tidur biasanya tidak berbahaya. Namun, jika keluhan terus berulang setiap pagi, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

Apalagi jika sakit kepala disertai kelemahan pada salah satu sisi tubuh, mati rasa, gangguan bicara, penurunan kesadaran, atau nyeri yang terasa sangat hebat.

Kondisi tersebut dapat menjadi tanda gangguan neurologis yang membutuhkan penanganan segera.

Sebelum menjalani pemeriksaan, dokter menyarankan mencatat pola sakit kepala, kualitas tidur, kebiasaan minum kopi atau alkohol, hingga gejala lain seperti mendengkur, nyeri rahang, atau migrain.

Baca juga: Cuaca Ekstrem dan Paparan Sinar Matahari Bisa Tingkatkan Risiko Katarak!