Jakarta – Teman, keluarga, atau psikolog sudah biasa jadi teman curhat saat ada masalah. Namun bagi Gen Z, ada tempat curhat baru yang kini jadi favorit, yaitu Chatbot berbasis Artificial Intelligence (AI).
Fakta ini terungkap melalui studi yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Pediatrics. Dalam studi itu, 1 dari 5 remaja dan dewasa muda pernah minta saran dan dukungan emosional kepada Chatbot AI.
Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa AI mulai menjadi bagian dari cara generasi muda mencari dukungan ketika menghadapi tekanan emosional.
Melansir CNN, penelitian tersebut melibatkan 1.009 responden berusia 12 hingga 21 tahun di Amerika Serikat. Hasilnya kemudian diproyeksikan mewakili sekitar 43 juta remaja dan dewasa muda di negara tersebut.
Dari hasil survei, sekitar 19 persen responden mengaku menggunakan chatbot AI ketika merasa sedih, marah, gugup, atau stres. Jika diproyeksikan secara nasional, jumlahnya mencapai lebih dari delapan juta anak muda.
Menariknya, penggunaan chatbot AI bukan hanya terjadi sesekali. Lebih dari empat dari 10 responden yang pernah menggunakannya mengaku kembali meminta bantuan setidaknya sekali setiap bulan.
Baca juga: OpenAI Dikabarkan Sedang Menyiapkan Perangkat Keras Smart Speaker
Alasan Memilih Curhat ke AI?
Menurut pakar kesehatan CNN Dr. Leana Wen, ada beberapa alasan yang membuat chatbot AI terasa menarik bagi generasi muda.
Chatbot AI dapat diakses selama 24 jam, memberikan respons dalam hitungan detik, serta tidak memberikan kesan menghakimi.
Bagi remaja, bertanya kepada AI lebih mudah dibanding memulai percakapan untuk membicarakan masalah kepada orang tua, guru, atau konselor.
Studi tersebut juga menemukan bahwa remaja yang baru berkonsultasi mengenai kesehatan mental dengan tenaga medis justru lebih sering menggunakan chatbot AI.
Temuan ini menunjukkan AI belum tentu menggantikan peran profesional kesehatan mental, melainkan menjadi pelengkap ketika seseorang membutuhkan tempat untuk berbicara.
Baca juga: Indonesia Masuk Jajaran Pendiri Organisasi AI Dunia WAICO
Membantu, tetapi Bukan Pengganti Terapis
Meski lebih dari 91 persen pengguna menganggap jawaban chatbot AI cukup membantu, Dr. Wen mengingatkan bahwa persepsi tersebut belum tentu berarti AI benar-benar meningkatkan kesehatan mental penggunanya.
“Anak muda menyukai respons yang mereka terima. Namun, itu tidak berarti respons tersebut mampu memperbaiki kesehatan mental atau mengurangi gejala depresi dan kecemasan,” jelas Dr. Leana Wen.
Chatbot AI memang dirancang agar mampu merespons dengan ramah, suportif, dan membuat pengguna merasa didengar. Pengalaman tersebut dapat memberikan rasa nyaman, tetapi berbeda dengan terapi yang didasarkan pada bukti ilmiah.
Dr. Wen mengibaratkan kondisi tersebut seperti memilih layanan kesehatan. Seseorang tentu menginginkan tenaga medis yang hangat dan komunikatif.
Hanya saja, kata Dr. Wen, yang jauh lebih penting adalah apakah saran yang diberikan benar-benar akurat dan memberikan hasil yang baik bagi kesehatan.
Oleh karena itu, ia menyarankan chatbot AI sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya tempat mencari bantuan ketika menghadapi persoalan kesehatan mental yang serius.
Seiring perkembangan teknologi AI yang semakin pesat, chatbot diperkirakan akan terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa teknologi tersebut tetap memiliki keterbatasan dan belum dapat menggantikan peran keluarga, teman, maupun tenaga kesehatan mental profesional dalam memberikan dukungan emosional.
Baca juga: 5 Hal yang Perlu Dicek Sebelum Mengirim Pesan Buatan AI



