Cuaca Ekstrem dan Paparan Sinar Matahari Bisa Tingkatkan Risiko Katarak!

William Ciputra15 Juli 2026

Jakarta – Saat cuaca panas menyengat, banyak orang lebih fokus melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Padahal, mata juga menjadi salah satu organ yang rentan terdampak.

Paparan sinar ultraviolet (UV) dalam jangka panjang diketahui dapat meningkatkan risiko katarak, bahkan membuat gangguan penglihatan ini muncul lebih cepat di negara tropis seperti Indonesia.

Sebagai negara yang berada di garis khatulistiwa, Indonesia menerima paparan sinar matahari dengan intensitas tinggi hampir sepanjang tahun. Kondisi ini membuat masyarakat memiliki risiko lebih besar mengalami katarak dibandingkan mereka yang tinggal di negara dengan paparan sinar matahari yang lebih rendah.

Dokter Spesialis Mata sekaligus Head of Research and Medical Training Division JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Nina Asrini Noor, mengatakan paparan sinar matahari memang menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tingginya kasus katarak di Indonesia.

“Kita hidup di negara khatulistiwa, otomatis paparan matahari sangat tinggi sehingga memang katarak itu terjadi lebih cepat dibandingkan mereka yang tinggal di negara yang bukan di khatulistiwa,” ujarnya.

Gejalanya muncul tanpa disadari

Katarak merupakan kondisi ketika lensa alami mata berubah menjadi keruh sehingga cahaya tidak dapat masuk ke retina secara optimal. Prosesnya berlangsung perlahan, sehingga banyak orang baru sadar ketika gangguan penglihatan mulai menghambat aktivitas sehari-hari.

Gejalanya bisa berupa pandangan yang semakin buram, warna terlihat lebih pudar, mata menjadi sensitif terhadap cahaya, hingga muncul silau saat melihat lampu kendaraan pada malam hari. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat terus memburuk dan meningkatkan risiko kebutaan.

Secara global, World Health Organization (WHO) mencatat katarak masih menjadi salah satu penyebab utama gangguan penglihatan dengan lebih dari 100 juta orang terdampak. Di Indonesia, katarak bahkan menyumbang sekitar 81,2 persen kasus kebutaan pada masyarakat berusia di atas 50 tahun.

Operasi katarak makin presisi

Kabar baiknya, perkembangan teknologi membuat penanganan katarak kini jauh lebih modern dibandingkan beberapa tahun lalu. Salah satunya melalui Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS), yaitu prosedur operasi yang memanfaatkan teknologi laser dengan bantuan sistem komputer dan pencitraan optik.

Teknologi tersebut memungkinkan dokter melakukan berbagai tahapan operasi, mulai dari membuat sayatan pada kornea, membuka kapsul lensa, hingga memecah lensa yang keruh dengan tingkat presisi yang lebih tinggi dibandingkan metode konvensional. Hasilnya, tindakan menjadi lebih terukur dan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Lensa tanam bisa disesuaikan dengan kebutuhan

Operasi katarak tidak hanya bertujuan mengangkat lensa mata yang keruh. Setelah proses tersebut selesai, dokter akan menggantinya dengan lensa tanam atau intraocular lens (IOL) yang akan menentukan kualitas penglihatan pasien setelah operasi.

Menurut Dr. Nina, pemilihan lensa menjadi salah satu tahap penting karena setiap pasien memiliki kebutuhan penglihatan yang berbeda.

“Pemilihan lensa tanam yang tepat sangat penting karena lensa inilah yang akan menggantikan lensa alami mata dan menentukan kualitas penglihatan setelah operasi,” jelasnya.

Saat ini tersedia berbagai jenis lensa tanam yang dapat disesuaikan dengan gaya hidup pasien. Lensa monofokal umumnya digunakan untuk satu fokus penglihatan sehingga pasien masih membutuhkan kacamata untuk membaca.

Sementara itu, lensa multifokal memungkinkan pasien melihat objek pada beberapa jarak sekaligus sehingga ketergantungan terhadap kacamata menjadi lebih rendah.

Selain itu, tersedia pula lensa Extended Depth of Focus (EDOF) yang memberikan rentang fokus lebih luas dengan transisi penglihatan yang lebih natural.

Jenis lensa ini banyak dipilih oleh pasien yang aktif bekerja di depan layar komputer maupun sering berkendara. Bagi pasien yang memiliki mata silinder, dokter juga dapat menggunakan lensa toric untuk mengoreksi astigmatisme sekaligus saat operasi katarak dilakukan.

Jangan tunggu sampai parah!

Meski sering dikaitkan dengan faktor usia, katarak sebenarnya juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, termasuk tingginya paparan sinar matahari yang setiap hari diterima masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, menjaga kesehatan mata sejak dini dan tidak menunda pemeriksaan ketika mulai merasakan gangguan penglihatan menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi bertambah parah.

Dengan teknologi operasi yang semakin presisi dan pilihan lensa yang semakin beragam, penanganan katarak kini tidak hanya berfokus mengembalikan fungsi penglihatan, tetapi juga membantu pasien tetap aktif, mandiri, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik setelah menjalani tindakan.