Jakarta – Menjaga kesehatan jantung sering kali identik dengan menghindari kolesterol atau tekanan darah tinggi. Padahal, ada satu hal lain yang tak kalah penting, yaitu menjaga agar irama jantung tetap teratur.
Menurut dokter spesialis penyakit dalam subspesialis kardiovaskular di BraveHeart Cardiovascular Center Brawijaya Hospital Saharjo, dr Simon Salim, salah satu gangguan irama jantung yang paling sering ditemukan adalah fibrilasi atrium atau atrial fibrillation (AF).
Simon menjelaskan, AF membuat detak jantung menjadi tidak teratur. Masalahnya, kondisi ini tidak selalu menimbulkan keluhan sehingga seseorang bisa saja mengalaminya tanpa menyadarinya.
“Sebagian orang mungkin merasakan jantung berdebar, denyut jantung tidak teratur, mudah lelah, sesak, atau kemampuan beraktivitas yang menurun. Namun, sebagian lainnya tidak merasakan keluhan apa pun dan baru mengetahui adanya fibrilasi atrium ketika menjalani pemeriksaan jantung untuk alasan lain,” jelas Simon, dalam keterangan tertulis yang diterima Urbanstories, Jumat (2/10/2026).
Meski muncul tanpa gejala, AF bukan kondisi yang bisa diabaikan. Irama jantung yang tidak teratur membuat aliran darah di dalam jantung menjadi kurang lancar dan meningkatkan kemungkinan terbentuknya bekuan darah.
Jika bekuan tersebut terbawa ke otak, aliran darah dapat tersumbat dan menyebabkan stroke. Oleh karena itu, pencegahan stroke menjadi salah satu bagian penting dalam penanganan pasien fibrilasi atrium.
Risiko AF juga meningkat seiring bertambahnya usia. Studi Framingham menunjukkan, setelah usia 50 tahun, risikonya dapat meningkat sekitar dua kali lipat setiap pertambahan 10 tahun.
Hampir 10 persen orang yang mencapai usia 80 tahun juga diperkirakan dapat mengalami fibrilasi atrium.
Namun, usia bukan satu-satunya faktor. Tekanan darah tinggi, obesitas, diabetes, gagal jantung, penyakit jantung struktural, gangguan tidur seperti sleep apnea, serta konsumsi alkohol juga dapat meningkatkan risikonya.
“Tidak semua kasus fibrilasi atrium dapat dicegah. Namun, banyak faktor yang meningkatkan risiko fibrilasi atrium dapat dimodifikasi,” ujar Simon.
Baca juga: Minum Obat Hipertensi Bikin Ginjal Rusak, Mitos/Fakta?
Pola Hidup Sehat Itu Penting
Menjaga irama jantung tidak hanya berkaitan dengan pemeriksaan dan pengobatan. Modifikasi gaya hidup juga menjadi bagian penting.
Pola hidup sehat ini, kata Simon, bisa membantu mengendalikan faktor risiko maupun mengurangi kekambuhan dan beban fibrilasi atrium pada pasien yang sudah mengalaminya.
“Pengelolaan faktor risiko dan penyakit penyerta merupakan bagian penting dalam penanganan fibrilasi atrium,” jelas Dr. Simon, merujuk pada pedoman ESC 2024.
Langkah pertama dapat dimulai dari makanan sehari-hari. Pola makan yang lebih sehat berarti memperbanyak sayur, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta sumber protein sehat seperti ikan.
Sebaliknya, asupan garam, gula tambahan, lemak jenuh, makanan olahan, minuman manis, dan alkohol perlu dibatasi.
Pola makan tersebut bukan hanya membantu menjaga kesehatan jantung, tetapi juga membantu mengendalikan sejumlah faktor yang berkaitan dengan fibrilasi atrium.
Kebiasaan bergerak juga perlu diperhatikan. Aktivitas fisik teratur dapat membantu menjaga kebugaran dan kesehatan jantung.
Orang dewasa dianjurkan melakukan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang atau 75 menit aktivitas intensitas berat setiap minggu. Latihan kekuatan juga dianjurkan setidaknya dua kali seminggu.
“Tidak harus berupa olahraga berat. Berjalan kaki, mengurangi waktu duduk terlalu lama, dan meningkatkan aktivitas secara bertahap juga merupakan bagian dari kebiasaan aktif,” kata Simon.
Hal lain yang tak kalah penting adalah berhenti merokok. Nikotin dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung, sekaligus berkaitan dengan berbagai risiko penyakit kardiovaskular.
Tidur juga perlu mendapat perhatian. Orang dewasa sebaiknya tidur sekitar 7–9 jam setiap malam. Selain durasi, waktu tidur dan bangun yang teratur serta kualitas istirahat juga penting.
Pada orang dengan fibrilasi atrium, gangguan tidur seperti sleep apnea perlu diperhatikan. Dengkuran keras, sering terbangun saat tidur, atau rasa mengantuk berlebihan pada siang hari bisa menjadi tanda yang perlu diperiksakan.
Berat badan menjadi faktor lain yang dapat dimodifikasi. Kelebihan berat badan dan obesitas dapat meningkatkan risiko fibrilasi atrium.
Oleh karena itu, menjaga berat badan melalui pengaturan porsi makan dan aktivitas fisik menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung.
Pada pasien AF yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, pedoman ESC 2024 merekomendasikan penurunan berat badan setidaknya 10 persen sebagai bagian dari pengelolaan faktor risiko.
Selain berat badan, kadar kolesterol dan gula darah juga perlu dikendalikan. Pola makan sehat dan aktivitas fisik dapat membantu menjaga keduanya, sementara pasien dengan kondisi tertentu mungkin membutuhkan pengobatan sesuai anjuran dokter.
“Bila kadar kolesterol tetap tinggi, pengobatan sesuai anjuran dokter dapat diperlukan,” jelasnya.
Begitu pula dengan gula darah, terutama pada orang dengan diabetes. Pemantauan gula darah dan penggunaan obat sesuai anjuran dokter penting untuk mengendalikan kondisi sekaligus mengurangi risiko komplikasi kardiovaskular.
Tekanan darah juga tidak boleh luput. Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penting untuk AF sehingga pemeriksaan tekanan darah secara berkala perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Delapan langkah tersebut tidak harus dijalankan sekaligus. Menurut Simon, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten akan lebih mudah menjadi bagian dari keseharian.
“Tidak perlu menunggu munculnya keluhan atau diagnosis penyakit jantung untuk mulai memperhatikan pola makan, aktivitas fisik, tidur, berat badan, maupun faktor kesehatan lainnya,” katanya.
Baca juga: Mengenal Gangguan Saraf Tepi dan Penanganan Medisnya



