Minum Obat Hipertensi Bikin Ginjal Rusak, Mitos/Fakta?

William Ciputra•30 September 2026

Jakarta – Orang dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi sering kali merasa khawatir jika harus minum obat secara terus-menerus. Mereka beranggapan, obat yang dikonsumsi itu bisa merusak ginjal.

Alhasil, ketika tensi darah sudah dianggap normal, mereka justru memilih untuk berhenti mengonsumsi obat tersebut.

Pertanyaannya, apakah anggapan tersebut benar, bahwa minum obat hipertensi terus menerus membuat ginjal rusak?

Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di Siloam Hospital TB Simatupang, Prof Yoga Yuniadi, anggapan obat hipertensi menyebabkan sakit ginjal itu keliru.

“Padahal pasien yang berhenti minum obat atau tidak teratur, dia (berpotensi) sakit ginjal. Sebaliknya hipertensi yang tidak diobati, itu yang membuat ginjalnya rusak,” kata Prof Yoga dalam press conference “Hari Jantung Sedunia – Deteksi Dini Aritmia dan Rekomendasi Prosedur untuk Tingkatkan Kualitas Hidup di Siloam Hospital TB Simatupang, Selasa (29/9/2026).

Prof Yoga menjelaskan, pasien yang dikatakan mengalami hipertensi itu artinya sudah berada dalam tahapan yang memerlukan pengobatan.

Menurutnya, sangat jarang pasien pasien hipertensi yang tensinya bisa dikontrol dengan perubahan gaya hidup. Memang ada yang bias dikontrol, kata dia, tetapi jarang sekali.

Oleh karena itu, pasien yang mengidap hipertensi, lanjut Prof Yoga, harus berpikir bahwa penyakit tersebut harus diobati agar tensinya terkontrol.

“Poinnya adalah tensinya harus terkontrol, yaitu targetnya kurang dari 130/90 untuk semua usia,” tegasnya.

Selain itu, lanjutnya, sekitar 80% orang yang memerlukan obat hipertensi untuk mengontrol tensi membutuhkan lebih dari satu macam obat, atau harus kombinasi.

Dengan fakta ini, Prof Yoga menyebutkan bahwa minum obat bagi pasien hipertensi merupakan suatu keniscayaan.

“Karena dengan mengontrol tensi, maka akan mengurangi risiko pasien mengalami Atrial Fibrillation (AF), serangan jantung, hingga stroke,” katanya.

Baca juga: Paham Kondisi Fertilitas Penting untuk Merencanakan Kehamilan

Atrial Fibrillation (AF) Harus Dikenali Sedini Mungkin

Selain meluruskan anggapan obat hipertensi membuat sakit ginjal, Prof Yoga juga mengingatkan pentingnya masyarakat untuk mengenali aritmia, khususnya AF, sedini mungkin.

Prof Yoga menjelaskan, banyak orang yang memilih untuk menunda melakukan ablasi kateter karena kurangnya edukasi tentang penanganan AF.

“Padahal melakukan ablasi pada AF sejak dinim yaitu kurang dari 1 tahun, terbukti bukan hanya memperbaiki kualitas hidup tetapi juga dapat mencegah stroke dan memperpanjang harapan hidup,” katanya.

Salah satu pilihan tata laksana untuk AF ini adalah ablasi kateter. Di Siloam Hospitals TB Simatupang, ablasi tersedia dengan teknologi RFA (Radiofrequency Ablation), CBA (Cryoballoon Ablation), dan PFA (Pulse Field Ablation).

Siloam Hospitals TB Simatupang juga mendorong edukasi dan deteksi dini gangguan irama jantung melalui kampanye “Let’s Check the Beat” yang dimulai sejak 5 Maret 2026.

Kampanye ini mengajak masyarakat mengenali aritmia dan faktor risikonya, serta melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan elektrokardiogram (EKG).

EKG yang sudah dilaksanakan itu diikuti oleh 1.412 peserta dengan rentang usia 15-64 tahun. Hasilnya, sebanyak 164 orang atau 11,6% terdeteksi mengalami aritmia.

Hospital Director Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Dewi Wiguna mengatakan, masyarakat yang terdeteksi aritmia itu berada di rentang usia 25-44 tahun dengan persentase sebesar 51,82%.

Dokter Dewi menambahkan, peserta EKG screening dalam kampanye tersebut telah mendapatkan edukasi, serta diberikan rekomendasi langkah awal penanganan aritmia.

“Kami percaya, langkah kecil ini bisa membantu menyehatkan Indonesia. One small step today for a healthier heart tomorrow,” pungkasnya.

Baca juga: Mengenal Gangguan Saraf Tepi dan Penanganan Medisnya