Pria Wajib Tahu, Testosteron Rendah Juga Bikin Mudah Lelah!

William Ciputra29 Juli 2026

Jakarta – Hormon testosteron identik dengan gairah seksual dan kesuburan pria. Padahal, kadar hormon yang rendah juga bisa membuat tubuh mudah lelah, sulit berkonsentrasi, hingga menurunkan performa saat bekerja.

Menurut Dokter Spesialis Andrologi Eka Hospital BSD, dr. Christian Christoper Sunnu, Sp.And, keluhan tersebut sering kali tidak disadari berkaitan dengan testosteron.

Akibatnya, banyak pria baru memeriksakan diri ketika kondisi sudah mengganggu aktivitas sehari-hari.

“Banyak pasien datang karena merasa cepat lelah, sulit fokus, atau performa kerjanya menurun. Karena itu, gejala seperti ini juga perlu dievaluasi, terutama bila disertai keluhan lain,” ujar dr. Sunnu dalam diskusi media di Tangerang, Selasa (28/7/2026).

Selain membantu pembentukan sperma, testosteron juga berperan menjaga energi, suasana hati, kemampuan berpikir, massa otot, dan kepadatan tulang.

Oleh karena itu, penurunan kadar hormon ini dapat memengaruhi kondisi fisik maupun mental secara bersamaan.

Sejumlah penelitian menunjukkan pria dengan testosteron rendah lebih rentan mengalami perubahan suasana hati, kehilangan motivasi, hingga gejala depresi.

“Hormon testosteron juga berperan menjaga energi, konsentrasi, suasana hati, massa otot, hingga kualitas hidup pria secara keseluruhan,” jelas dr. Sunnu.

Selain mudah lelah dan sulit fokus, testosteron rendah juga dapat ditandai dengan menurunnya gairah seksual, disfungsi ereksi, berkurangnya massa otot, meningkatnya lemak tubuh, mudah lupa, serta gangguan tidur.

Jika dibiarkan, kondisi ini juga berkaitan dengan meningkatnya risiko obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, hingga penyakit jantung dan stroke.

Baca juga: Kista Endometriosis Bikin Sulit Hamil? Begini Kata Dokter

Cara Mengatasi Testosteron Rendah

Diagnosis testosteron rendah dilakukan melalui pemeriksaan kadar hormon dalam darah. Setelah penyebabnya diketahui, dokter akan menentukan terapi yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

Pilihan terapi dapat berupa Testosterone Replacement Therapy (TRT) maupun obat hormonal tertentu, seperti clomiphene citrate.

Pada beberapa pasien, dokter juga dapat merekomendasikan vitamin atau mineral, seperti vitamin D, zinc, dan magnesium untuk melengkapi terapi.

Perubahan gaya hidup juga menjadi bagian penting dalam penanganan testosteron rendah.

Olahraga, terutama latihan beban, tidur 6–8 jam setiap malam, mengelola stres, mengonsumsi makanan bergizi, dan membatasi alkohol dapat membantu menjaga kadar testosteron tetap optimal.

“Penanganan harus disesuaikan dengan penyebab dan kondisi masing-masing pasien agar manfaatnya optimal sekaligus meminimalkan risiko efek samping,” kata dr. Sunnu.

Ia mengimbau pria tidak mengabaikan keluhan yang berlangsung dalam waktu lama. Semakin cepat diperiksa, semakin besar peluang menemukan penyebabnya dan mencegah komplikasi yang lebih serius.

Baca juga: 7 Faktor yang Membuatmu Sakit Kepala saat Bangun Tidur