Punya HP di Usia 12 Tahun Tingkatkan Risiko Gangguan Makan

William Ciputra•29 September 2026

Jakarta – Memberikan smartphone pribadi kepada anak di usia 12 tahun mungkin terlihat biasa di era sekarang. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa langkah ini berkaitan dengan risiko gejala gangguan makan pada saat anak berusia 14 tahun.

Studi tersebut diterbitkan di jurnal medis JAMA Network Open baru-baru ini. Penelitian menganalisis data sekitar 9.000 remaja di Amerika Serikat.

Hasilnya menunjukkan, anak yang memiliki smartphone sendiri pada usia 12 tahun lebih banyak mengalami gejala setidaknya satu gangguan makan ketika berusia 14 tahun dibandingkan mereka yang belum memiliki smartphone.

Studi ini menggunakan data dari Adolescent Brain Cognitive Development Study, penelitian jangka panjang yang mengikuti perkembangan otak dan kesehatan anak-anak di Amerika Serikat.

Dari seluruh peserta berusia 12 tahun, sekitar 70 persen sudah memiliki smartphone sendiri. Dua tahun kemudian, sekitar 24 persen dari kelompok tersebut menunjukkan gejala setidaknya satu gangguan makan.

Angkanya lebih rendah pada remaja yang tidak memiliki smartphone ketika berusia 12 tahun, yakni kurang dari 16 persen.

Menurut peneliti utama Dr. Jason Nagata, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah akses anak terhadap konten digital yang berfokus pada penampilan.

Nagata menjelaskan, smartphone dapat membawa berbagai gambar dan pesan tentang tubuh, makanan, serta berat badan langsung ke tangan anak.

“Smartphone dapat menghadirkan dunia konten yang berfokus pada penampilan ke dalam genggaman anak muda, sehingga membuat mereka rentan terhadap gambar dan pesan yang mendorong kebiasaan makan tidak sehat,” ujar Nagata, melansir CNN.

Ia menekankan bahwa keputusan orang tua bukan hanya soal memberikan atau tidak memberikan smartphone. Usia ketika anak mulai memiliki perangkat sendiri juga perlu menjadi pertimbangan.

Baca juga: Anak Tak Harus Sempurna, Orang Tua Perlu Dukung Potensinya

Mengapa Usia 12 Tahun Perlu Diperhatikan?

Usia awal remaja merupakan periode ketika perubahan fisik dan emosional berlangsung cukup pesat.

Perubahan bentuk tubuh membuat anak mulai sering membandingkan dirinya dengan orang lain, termasuk bagaimana mereka melihat tubuh dan penampilannya sendiri.

Sebelum smartphone dan media sosial menjadi bagian dari keseharian, perbandingan tersebut lebih banyak terjadi dengan teman sebaya.

Kini, anak juga dapat membandingkan dirinya dengan influencer yang menampilkan foto melalui proses kurasi, penyuntingan, hingga penggunaan filter.

Nagata mengatakan kondisi tersebut dapat meningkatkan ketidakpuasan terhadap tubuh dan menurunkan rasa percaya diri. Dalam jangka panjang, keduanya dapat menjadi faktor risiko munculnya gangguan makan.

Studi tersebut menemukan bahwa anak yang memiliki smartphone pada usia 12 tahun memiliki kemungkinan dua kali lebih besar mengaitkan harga dirinya dengan berat badan.

Mereka juga 1,5 kali lebih mungkin mencoba mengendalikan berat badan melalui cara seperti mengonsumsi makanan rendah kalori atau berolahraga secara berlebihan.

Gangguan makan sendiri tidak hanya berkaitan dengan jumlah makanan yang dikonsumsi. Kondisi tersebut dapat melibatkan perhatian berlebihan terhadap makanan dan berat badan.

Termasuk persepsi yang keliru terhadap ukuran atau bentuk tubuh, pembatasan asupan makanan, hingga perilaku seperti memuntahkan makanan atau berolahraga secara berlebihan.

Penelitian tersebut memperkirakan sekitar 22 persen anak dan remaja di seluruh dunia menunjukkan gejala gangguan makan.

Tingkat keparahan dan terpenuhinya kriteria diagnosis menjadi pembeda antara gejala gangguan makan dan kondisi gangguan makan yang lebih berat.

Nagata, yang merupakan associate professor bidang pediatri di University of California, San Francisco, mengatakan penelitian sebelumnya lebih banyak melihat hubungan antara durasi penggunaan perangkat dan kondisi anak.

Studi terbaru ini mencoba melihat pertanyaan berbeda, yakni apakah usia ketika anak mulai memiliki smartphone berkaitan dengan perkembangan gangguan makan di kemudian hari.

Baca juga: Daftar Aplikasi Berisiko Tinggi bagi Anak-anak

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

Dr. Mitch Prinstein, distinguished professor bidang psikologi dan neurosains di University of North Carolina at Chapel Hill yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan menunda pemberian smartphone dapat memberi perlindungan sementara dari tekanan terkait citra tubuh.

Menurut Prinstein, penelitian terbaru mulai menunjukkan bahwa menunda akses terhadap smartphone dan perangkat lain selama enam bulan hingga satu tahun dapat memberikan manfaat bagi kesehatan mental anak.

Namun, ia juga menyarankan agar akses anak terhadap media sosial diberikan secara bertahap setelah mereka memiliki smartphone.

“Kami tidak ingin memberikan mereka ponsel yang sepenuhnya terbuka, sehingga mereka dapat melihat apa pun yang mereka inginkan dan menggunakannya selama yang mereka mau,” ujar Prinstein.

Sebagian besar platform media sosial menetapkan usia minimum 13 tahun untuk membuat akun.

Namun, penelitian Nagata sebelumnya menemukan sekitar dua pertiga anak berusia 11 dan 12 tahun telah memiliki akun di platform seperti TikTok dan Instagram.

Studi terbaru ini tidak menentukan satu usia yang dianggap paling tepat bagi anak untuk mendapatkan smartphone.

Nagata mengatakan orang tua yang memberikan smartphone kepada anak yang masih muda perlu mempertimbangkan langkah keamanan tambahan.

Orang tua, misalnya, dapat membatasi aplikasi yang boleh diunduh dan tidak membiarkan anak membawa smartphone ke kamar tidur.

Langkah tersebut dapat membantu orang tua tetap mengetahui bagaimana perangkat digunakan tanpa harus sepenuhnya melepaskan pengawasan.

Keterlibatan orang tua dalam kehidupan digital anak juga dinilai penting. Nagata menyarankan orang tua membuat aturan dasar penggunaan smartphone, membicarakan secara terbuka konten yang dilihat anak, serta memperhatikan perubahan pada pola makan atau cara anak berbicara tentang tubuhnya.

Pembicaraan tersebut tidak harus selalu dilakukan dalam situasi khusus. Bahkan, waktu makan bersama keluarga dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengetahui apa yang sedang anak lihat dan alami di dunia digital.

Baca juga: Prancis Larang Anak di Bawah 15 Tahun Gunakan Media Sosial