Iwan Tirta Tafsirkan Memori untuk Masa Depan Lewat “SMERTI”

William Ciputra•8 Oktober 2026

Jakarta – Batik tidak hanya menyimpan motif, tetapi juga memori tentang manusia, tempat, alam, dan kebudayaan.

Gagasan itulah yang dibawa Iwan Tirta melalui SMERTI — Iwan Tirta Runway Collection 2027, koleksi yang menafsirkan kembali jejak masa lalu untuk dihadirkan dalam konteks masa kini dan masa depan.

Bekerja sama dengan BCA, Iwan Tirta mempersembahkan 50 tampilan busana pria dan wanita dalam sebuah peragaan yang untuk pertama kalinya digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Pilihan ruang tersebut sekaligus mempertemukan dua bentuk warisan budaya yang sama-sama menyimpan cerita dari waktu ke waktu.

SMERTI berangkat dari cara memandang memori sebagai sesuatu yang terus bergerak. Apa yang tersimpan dalam ingatan dapat berubah seiring waktu, lalu hadir kembali dalam bentuk yang berbeda.

Gagasan tersebut diterjemahkan melalui batik, dengan sejumlah motif dari khazanah IWAN TIRTA yang kembali dieksplorasi.

Motif-motif tersebut tidak sekadar diulang dalam bentuk lama. IWAN TIRTA mengubah skala, komposisi, repetisi, hingga penempatannya untuk menciptakan ritme dan perspektif baru.

Elemen yang familiar juga ditampilkan secara utuh maupun terfragmentasi, mengikuti cara kerja ingatan yang menyimpan, mengubah, lalu menghadirkan kembali sesuatu dalam bentuk berbeda.

Baca juga: ESMOD Jakarta Tampilkan 26 Looks di Fashion Nation 20th

“SMERTI lahir dari cara kami memandang memori sebagai sesuatu yang hidup. Karya dan pemikiran Iwan Tirta memberikan pijakan bagi kami untuk terus mengeksplorasi kemungkinan batik dalam konteks hari ini,” ujar Widiyana Sudirman, CEO Iwan Tirta.

Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam siluet yang menggabungkan konstruksi terukur dengan garis dan pergerakan yang lebih lembut.

Pendekatan soft structured atau soft architectural menjadi karakter utama 50 tampilan dalam koleksi ini.

Untuk material, SMERTI menggunakan batik berbahan 100 persen katun dan material TENCEL.

Koleksi tersebut juga dilengkapi styling items berbahan sutra dan denim, sehingga perpaduan siluet, material, dan tekstur menghadirkan batik dalam bentuk busana yang lebih kontemporer.

Pemilihan Gedung Kesenian Jakarta menjadi bagian penting dari narasi SMERTI. Bangunan bersejarah ini memiliki perjalanan panjang dalam perkembangan seni dan budaya.

Untuk pertama kalinya, gedung tersebut menjadi panggung sebuah peragaan busana. Pertemuan antara batik dan arsitektur membentuk dialog tentang bagaimana sesuatu dari masa lalu dapat terus hidup ketika dibaca kembali pada zaman yang berbeda.

Sebagai Art Director SMERTI, Shadtoto Prasetio menerjemahkan gagasan tersebut melalui konsep artistik yang merespons karakter Gedung Kesenian Jakarta.

Suasana visual, tata panggung, pergerakan model, pencahayaan, musik, dan ritme pertunjukan dirancang sebagai satu kesatuan agar runway tidak terasa terpisah dari ruang tempat koleksi dipresentasikan.

“SMERTI dirancang dengan mendengarkan ruangnya. Kami tidak ingin sekadar memindahkan format runway ke dalam gedung pertunjukan, tetapi membangun presentasi yang merespons karakter Gedung Kesenian Jakarta melalui gerak, pencahayaan, musik, dan ritme,” kata Shadtoto.

Pendekatan tersebut membuat SMERTI tidak berhenti pada presentasi busana. Batik, gerak, arsitektur, dan musik dirangkai menjadi sebuah pengalaman yang membawa penonton mengikuti perjalanan koleksi dari gagasan tentang memori hingga interpretasinya dalam bentuk visual.

Perjalanan itu mencapai bagian finale melalui penampilan khusus Efek Rumah Kaca. Musik ditempatkan sebagai bagian dari narasi, sekaligus menghubungkan koleksi dengan ruang dan gagasan tentang memori.

Di atas runway, setiap tampilan juga diperkuat melalui kolaborasi dengan Gelap Ruang Jiwa untuk aksesori dan Filo by Miwsoon untuk tas.

Fortuna Shoes melengkapi tampilan pria, sementara Naked Sol melengkapi tampilan wanita. Tata rias keseluruhan koleksi didukung oleh Make Over.

Rangkaian presentasi SMERTI turut dilengkapi sajian dari Dewata by Monsieur Spoon bagi para tamu. Perhelatan ini juga mendapat dukungan dari Propan, Plaza Indonesia, dan WWF.

Baca juga: Fashion Nation 20th Rayakan Ekosistem Fesyen Indonesia