PCOS Ganti Istilah Jadi PMOS, Kenali Pilar Utama Gejalanya!

William Ciputra•7 Oktober 2026

Jakarta – Siklus haid yang tidak teratur dan gangguan ovulasi selama ini dikenal sebagai gejala utama Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Namun, istilah tersebut kini berganti menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS).

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre, dr Gita Pratama, Sp.O.G., menjelaskan perubahan nama tersebut untuk menggambarkan kondisi secara lebih menyeluruh.

PMOS, kata Gita, tidak hanya berkaitan dengan ovarium, tetapi juga melibatkan sistem hormonal dan metabolik.

“PMOS merupakan gangguan kompleks yang melibatkan banyak sistem, bukan hanya gangguan pada ovarium, tetapi juga hormonal (poliendokrin) dan sistem metabolik,” jelas Gita, dikutip Rabu (7/10/2026).

Istilah PCOS selama ini cukup dikenal karena gangguan tersebut banyak ditemukan pada perempuan usia reproduktif.

World Health Organization (WHO) menyebut sekitar 10-15 persen perempuan usia reproduktif di dunia mengalami PCOS.

Namun, menurut Gita, istilah PCOS membuat kondisi ini seolah hanya berkaitan dengan adanya “kista” pada ovarium.

Padahal, yang ditemukan pada pengidap kondisi tersebut bukan kista dalam pengertian yang selama ini sering dipahami.

Menurut dr Gita, perempuan dengan PMOS justru dapat memiliki jumlah folikel atau bakal sel telur yang lebih banyak akibat terganggunya proses ovulasi.

Sejak Mei 2026, istilah PCOS resmi berganti menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) melalui kesepakatan para ahli yang diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet.

Perubahan istilah ini sekaligus menegaskan bahwa persoalannya tidak berhenti pada ovarium.

“Jika PCOS dulu sering disalahpahami sebagai gangguan reproduksi semata, PMOS menekankan pentingnya aspek metabolik,” kata Gita.

Aspek tersebut antara lain mencakup resistensi insulin, peningkatan risiko diabetes tipe 2, gangguan kesehatan jantung dan penyakit kardiovaskular.

Kondisinya juga dapat berkaitan dengan masalah kulit hingga gangguan psikologis, sehingga penanganannya perlu melihat kondisi perempuan secara lebih menyeluruh.

Meski penyebab pasti PMOS belum sepenuhnya diketahui, Gita menjelaskan bahwa faktor genetik memiliki peran besar.

Kondisi tersebut kemudian diperburuk oleh gaya hidup, terutama kurang bergerak, stres kronis, kurang tidur, serta pola makan tinggi kalori dan lemak yang banyak mengandalkan junk food serta processed food.

Resistensi insulin menjadi salah satu akar masalah pada sebagian besar kasus PMOS, terlepas dari berat badan pengidapnya. Ketika tubuh semakin tidak sensitif terhadap insulin, tubuh akan memproduksi insulin dalam jumlah lebih banyak.

Kondisi itu kemudian dapat merangsang ovarium memproduksi hormon androgen secara berlebihan dan akhirnya mengganggu ovulasi serta siklus haid.

Baca juga: Menjaga Irama Jantung dengan Gaya Hidup Lebih Sehat

Pilar Utama Gejala PMOS

Karena melibatkan banyak sistem tubuh, gejala PMOS dapat muncul dalam beragam bentuk.

Gita menjelaskan bahwa diagnosis tidak bisa hanya mengandalkan satu pemeriksaan, melainkan perlu melihat riwayat kesehatan dan kondisi pasien secara menyeluruh.

“Penegakan diagnosis PMOS tidak cukup dilakukan dengan satu jenis tes karena gejalanya yang sangat beragam,” jelas Gita.

Dalam proses diagnosis, dokter biasanya melakukan anamnesis atau wawancara medis, pemeriksaan fisik, tes darah, dan USG.

Dokter juga dapat menggunakan kriteria Rotterdam yang mengharuskan pasien memenuhi setidaknya dua dari tiga pilar utama gejala.

Pilar pertama adalah gangguan haid akibat ketidakseimbangan hormon. Kondisinya dapat berupa siklus haid yang lebih dari 35 hari atau kurang dari delapan kali dalam setahun.

Selin itu, kondisi seperti haid berhenti total atau amenorea dan perdarahan abnormal yang sangat banyak dan tidak terduga, juga masuk dalam pilar pertama ini.

Pilar kedua adalah kelebihan hormon androgen. Kondisi ini dapat terlihat dari tumbuhnya rambut kasar di area wajah seperti kumis atau jenggot, dada, dan perut.

Jerawat yang membandel, terutama di area rahang dan dagu, serta kerontokan rambut yang menyebabkan penipisan rambut di kepala atau alopecia juga dapat menjadi tandanya.

Sementara itu, pilar ketiga dilihat melalui gambaran ovarium pada pemeriksaan USG. Dokter dapat menemukan 20 atau lebih folikel kecil berukuran 2-9 milimeter pada salah satu atau kedua ovarium.

Folikel tersebut dapat tersusun di bagian tepi ovarium menyerupai rangkaian mutiara atau string of pearls. Gambaran lainnya adalah volume ovarium lebih dari 10 mililiter atau 10 cm³ akibat penebalan stroma dan penumpulan folikel kecil.

Menurut Gita, gejala-gejala tersebut perlu diperhatikan karena sebagian perempuan justru menganggapnya sebagai kondisi yang biasa.

Siklus haid yang tidak teratur, bercak kulit gelap di leher, kelelahan kronis, sampai perubahan suasana hati biasanya dianggap sepele dan tidak segera diperiksakan.

Padahal, gejala PMOS tidak hanya berkaitan dengan sistem reproduksi. Ketika kondisi hormonal dan metaboliknya tidak ditangani, dampaknya dapat berlanjut pada kesehatan perempuan dalam jangka panjang.

Baca juga: 7 Faktor yang Membuatmu Sakit Kepala saat Bangun Tidur

Penanganan PMOS Cegah Dampak Buruk Jangka Panjang

PMOS merupakan kondisi yang cukup umum pada perempuan usia reproduktif. Kondisi ini setidaknya memengaruhi sekitar satu dari 10 perempuan, sementara hingga 50 persen kasus diperkirakan belum terdiagnosis.

Salah satu persoalan yang masih sering terjadi adalah anggapan bahwa PMOS hanya berkaitan dengan kesuburan.

Padahal, aspek metabolik dan psikologis juga perlu diperhatikan karena dapat menimbulkan berbagai dampak dalam jangka panjang.

“PMOS bukan sekadar masalah gangguan hormon reproduksi saja, tetapi juga berkaitan dengan gangguan metabolik,” ujar Gita.

Dampak fisik yang dapat berkaitan dengan PMOS antara lain resistensi insulin, diabetes tipe 2, hipertensi, kadar kolesterol tinggi, penyakit jantung, hingga sleep apnea.

Di sisi lain, kondisi ini juga dapat memengaruhi kesehatan psikologis, termasuk meningkatkan risiko kecemasan dan depresi.

Perubahan fisik seperti jerawat serta pertumbuhan rambut berlebih juga dapat memengaruhi body image pasien.

PMOS tidak sepenuhnya dapat dicegah karena faktor genetik memiliki peran di dalamnya. Meski begitu, Gita menegaskan bahwa kondisi ini dapat dikelola dengan baik.

“PMOS dapat dikelola dengan sangat baik melalui deteksi dini, penyesuaian gaya hidup, dan penanganan medis yang tepat,” jelasnya.

Penerapan gaya hidup sehat menjadi bagian penting dalam pengelolaan PMOS.

Pada perempuan dengan berat badan berlebih, penurunan 5-10 persen berat badan dalam waktu 3-6 bulan dapat membantu mengatur kembali siklus haid dan menekan resistensi insulin.

Pola makan juga perlu diperbaiki dengan mengutamakan makanan kaya serat, cukup protein, serta karbohidrat kompleks seperti nasi merah dan roti gandum.

Perubahan tersebut perlu dibarengi aktivitas fisik yang rutin, waktu istirahat yang cukup, dan pengelolaan stres.

Kebiasaan tersebut membantu menjaga metabolisme sekaligus mengurangi faktor yang dapat memperburuk gangguan hormonal dan resistensi insulin.

Penanganan medis kemudian disesuaikan dengan kondisi serta tujuan pasien. Bagi perempuan yang belum merencanakan kehamilan, dokter dapat memberikan pil KB kombinasi untuk membantu mengatur siklus haid.

Sementara bagi pasien yang sedang merencanakan kehamilan, tersedia terapi kesuburan untuk merangsang ovulasi.

Bila pasien mengalami resistensi insulin, dokter dapat memberikan obat khusus untuk membantu menurunkan kadar insulin dan gula darah.

Baca juga: Takut Operasi Tiroid Karena Bekas Luka? Coba Metode RFA Tiroid