Search

Lestari Tradisi Bandung 1990 Hidupkan Kembali Pesta Rakyat Sunda

William Ciputra•19 Oktober 2026

Seluruh pengisi acara Lestari Tradisi Bandung 1990. (Dok. Titimangsa)

Jakarta – Titimangsa bersama Bakti Budaya Djarum Foundation menghadirkan Lestari Tradisi: Bandung 1990 di Bumi Sangkuriang, Bandung, Sabtu (17/10/2026).

Acara ini memadukan pertunjukan seni Sunda, unjuk bakat seniman lokal, lomba kesenian, serta bazar kuliner dan kerajinan khas Sunda dalam suasana pesta rakyat.

Gerakan Lestari Tradisi bermula dari inisiatif Titimangsa pada masa pandemi melalui pertunjukan daring Taksu Ubud di Bali.

Program tersebut menjadi ruang bagi seniman lintas disiplin dan sanggar untuk kembali berkarya ketika akses terhadap panggung terbatas.

Inisiatif itu kemudian menginspirasi Happy Salma, pendiri Titimangsa, untuk membawa gerakan serupa ke Jawa Barat.

Pada 2023, Titimangsa bersama Bakti Budaya Djarum Foundation menggelar Lestari Tradisi: Sukabumi 1980 dengan melibatkan sanggar dan seniman tradisi setempat. Tahun ini, gerakan tersebut berlanjut melalui penyelenggaraan di Bandung.

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, mengatakan pelestarian budaya perlu memberi ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan terlibat langsung dalam tradisi.

“Bagi kami, menjaga budaya tetap hidup bukan hanya tentang mempertahankan tradisi, tetapi juga memberi ruang agar masyarakat bisa mengenal, menikmati, dan menjadi bagian darinya. Kesenian, kuliner, dan kerajinan tradisional menyimpan cerita serta nilai yang penting untuk terus diwariskan,” ujar Renitasari.

Baca juga: Kisah Kaluna Home Sweet Loan Diangkat ke Panggung Musikal

Pemilihan Bandung juga berkaitan dengan sejarah kota tersebut sebagai ruang perkembangan seni dan budaya. Pada akhir 1980-an hingga 1990-an, perpaduan seni tradisi dengan budaya populer melahirkan Pop Sunda.

Perkembangan ini turut ditandai dengan popularitas Tari Jaipong karya Gugum Gumbira dan lagu-lagu pop berbahasa Sunda di tingkat nasional.

Pendiri Titimangsa sekaligus produser Lestari Tradisi, Happy Salma, menuturkan, kegiatan ini mengajak masyarakat kembali mengenali identitas budayanya di tengah perubahan zaman.

“Kadang-kadang kebenaran atau sesuatu yang bagus itu dianggap penting dan eksis berdasarkan dari dia viral atau tidak. Tetapi kita harus punya kepercayaan diri bahwa sesuatu yang bagus itu tidak selalu harus viral. Kita mau melakukan kegiatan ini karena kita meyakini ada nilai yang baik di sana,” ungkap Happy.

Ia menambahkan, Lestari Tradisi menjadi bentuk apresiasi bagi para seniman yang konsisten menjaga sekaligus mengembangkan seni tradisi.

“Acara ini menjadi ruang pengingat untuk menoleh kembali pada kompas kehidupan kita, dari mana kita berasal, agar kita tidak gagap dalam melangkah menghadapi masa depan,” lanjutnya.

Upaya Happy Salma dalam merawat budaya juga diwujudkan melalui serial dokumenter terbarunya bersama rumah produksi Puri Aksara, dengan dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation, berjudul Di Bawah Langit Kita (Bertemu Para Penjaga Budaya).

Disutradarai dan dipandu langsung oleh Happy, serial ini terdiri dari tiga episode dengan durasi maksimal 15 menit. Serial tersebut mengangkat kisah para penjaga tradisi di Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.

Ceritanya menelusuri keterampilan menenun kain Futus, membuat perhiasan tradisional, hingga memainkan dan meneruskan musik tradisi. Setiap keterampilan menyimpan pengetahuan dan nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.

Produksi ini melibatkan Felix K. Nesi sebagai penulis skenario sekaligus produser. Felix meraih Piala Citra 2025 untuk kategori Penulisan Skenario Film Panjang Terbaik melalui film Pangku.

Produser lainnya, Ony W. Pahlevi, dikenal melalui karya dokumenter yang mengangkat budaya dan identitas lokal.

Filmnya, Dongeng Sebuah Batik, masuk nominasi Festival Film Indonesia untuk kategori Dokumenter Terbaik dan memenangkan Festival Film Nusantara 2019.

Serial dokumenter Di Bawah Langit Kita (Bertemu Para Penjaga Budaya) dijadwalkan tayang melalui kanal YouTube Indonesia Kaya mulai Senin, 19 Oktober 2026.

Baca juga: Jurnalis Lintas Media Pentaskan Wayang Orang Petruk Mantu