Jakarta – Diagnosis miom atau kista berukuran besar membuat perempuan khawatir, terutama ketika kondisi tersebut dikaitkan dengan operasi besar hingga kemungkinan kehilangan rahim.
Miom merupakan benjolan jinak yang tumbuh dari otot rahim, sedangkan kista ovarium adalah kantung yang dapat berisi cairan atau jaringan dan tumbuh di indung telur.
Keduanya dapat tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, tetapi masalah dapat muncul ketika ukurannya semakin besar.
Menurut Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Eka Hospital MT Haryono, dr. Sita Ayu Arumi, miom atau kista yang membesar dapat menyebabkan nyeri panggul atau kram perut bagian bawah, terutama saat menstruasi.
Kondisi tersebut juga memicu perdarahan menstruasi yang berlebihan, menekan organ di sekitarnya hingga menyebabkan sering buang air kecil atau sembelit, serta pada kondisi tertentu memengaruhi kesuburan atau meningkatkan risiko keguguran.
Meski demikian, Sita menyebut penanganan miom dan kista besar kini tidak harus mengangkat rahim. Pada kondisi tertentu, miom dapat diangkat dengan tetap mempertahankan rahim melalui prosedur miomektomi.
“Miom dapat ditangani dengan miomektomi, yaitu operasi untuk mengangkat miom dengan tetap mempertahankan rahim,” katanya di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Hanya saja, Sita menyebutkan bahwa pilihan tindakan tetap bergantung pada ukuran, jumlah, dan lokasi miom atau kista, kondisi kesehatan pasien, serta rencana kehamilan.
Baca juga: Artificial Ligament, Opsi Pemulihan Cepat pada Cedera ACL
Bedah Robotik Bantu Tangani Miom dan Kista
Salah satu pilihan penanganan pada kondisi tertentu adalah bedah robotik menggunakan teknologi da Vinci Xi.
Prosedur ini merupakan bentuk operasi minimal invasif yang menggunakan instrumen robotik dan dikendalikan sepenuhnya oleh dokter melalui konsol khusus.
Sita yang merupakan sosok perempuan pertama di Indonesia dalam tim bedah robotik menjelaskan bedah robotik ini.
Ia menjelaskan, sistem kamera 3D membantu dokter memperoleh gambaran area operasi dengan pembesaran dan visualisasi yang lebih jelas.
Instrumen robotik juga memiliki fleksibilitas gerak yang membantu dokter melakukan tindakan secara presisi pada area panggul yang sulit dijangkau.
Menurutnya, teknologi bedah robotik da Vinci Xi yang digunakan di Eka Hospital MT Haryono untuk penanganan miom dan kista merupakan bentuk operasi minimal invasif yang inovatif di bidang ginekologi.
“Prosedur ini menggunakan instrumen robotik yang sepenuhnya dikendalikan oleh dokter bedah melalui konsol khusus,” jelas dr. Sita.
Penggunaan sayatan yang lebih kecil juga membantu meminimalkan bekas luka serta kerusakan jaringan di sekitar area operasi.
Kondisi tersebut berpotensi membuat nyeri dan perdarahan lebih rendah dibandingkan bedah terbuka.
Selain itu, pasien dapat menjalani masa rawat inap yang lebih singkat dan kembali beraktivitas secara bertahap dalam waktu relatif lebih cepat.
Meski demikian, kata Sita, lama pemulihan tetap bergantung pada jenis tindakan dan kondisi masing-masing pasien.
Sebelum menjalani operasi, pasien akan menjalani konsultasi dan pemeriksaan diagnostik untuk mengetahui kondisi miom atau kista secara lebih detail.
MRI dapat digunakan untuk membantu melihat jumlah, ukuran, lokasi, dan karakteristiknya. Pemeriksaan darah dan skrining kesehatan lainnya juga dilakukan untuk memastikan pasien siap menjalani tindakan.
Operasi dilakukan dengan anestesi umum di ruang operasi khusus bedah robotik. Setelah tindakan, dokter akan menentukan lama rawat inap dan tahapan pemulihan berdasarkan kondisi pasien.
Sebagai spesialis kebidanan dan kandungan dengan fokus pada Minimally Invasive Gynecologic Surgery (MIGS) dan kesehatan reproduksi, Sita turut mempertimbangkan rencana kehamilan dalam menentukan pilihan penanganan.
Oleh karena itu, diagnosis miom atau kista besar tidak selalu berarti pengangkatan rahim menjadi satu-satunya pilihan.
Konsultasi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan diperlukan untuk mengetahui metode penanganan yang paling sesuai dengan kondisi dan rencana reproduksi masing-masing pasien.
Baca juga: Pria Wajib Tahu, Testosteron Rendah Juga Bikin Mudah Lelah!



