Perpusnas Pamerkan Warisan Manuskrip Nusantara

William Ciputra14 September 2026

Jakarta – Sejumlah manuskrip Nusantara yang telah masuk dalam Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dan Memory of the World (MOW) dipamerkan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) kepada publik.

Koleksi yang merekam gagasan, pengetahuan, nilai, dan perjalanan masyarakat Nusantara tersebut dihadirkan melalui pameran bertajuk Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran.

Pameran ini berlangsung pada 14 hingga 30 September 2026 di Gedung Grha Literasi, Bangunan Cagar Budaya Perpusnas, Jakarta, sebagai bagian dari rangkaian Hari Kunjung Perpustakaan 2026.

Perpusnas mengemas koleksi tersebut melalui reproduksi manuskrip, ilustrasi, infografis, dan elemen visual interaktif agar warisan pengetahuan itu lebih mudah dipahami, terutama oleh anak-anak dan generasi muda.

“Selain menyimpan koleksi, perpustakaan juga menjaga ingatan bangsa agar terus dipelajari, dipahami, dan dimaknai oleh generasi berikutnya,” kata Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, Senin (14/9/2026).

Baca juga: RUCI Art Wall Vol. 2 Soroti Generasi Baru Seniman Indonesia

Manuskrip yang dipamerkan tidak hanya diposisikan sebagai benda peninggalan masa lalu.

Isi di dalamnya merekam berbagai gagasan, pengetahuan, nilai, pengalaman, serta kehidupan masyarakat pada masanya yang dapat menjadi sumber untuk memahami identitas dan perjalanan bangsa.

Suharyanto menegaskan, warisan dokumenter yang tersimpan dalam manuskrip dapat menjadi pintu masuk untuk memahami identitas, kebudayaan, dan perjalanan bangsa.

“Warisan dokumenter juga sekaligus menggali nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan masa kini,” imbuhnya.

Pameran dibagi menjadi empat narasi utama. Pertama, “Warisan Indonesia untuk Dunia” yang memperkenalkan manuskrip sebagai rekaman perjalanan tokoh, peristiwa, gagasan, dan pengalaman masyarakat Nusantara.

Sejumlah manuskrip yang ditampilkan antara lain karya terkait Syekh Yusuf, Bo Sangaji, Sutasoma, Babad Diponegoro, Imam Bonjol, dan Trunojoyo.

Narasi kedua, “Warisan Nilai Bersama”, melihat manuskrip sebagai media pewarisan nilai, pengetahuan, kepercayaan, dan tradisi antargenerasi.

Beberapa koleksi yang diperkenalkan di antaranya Panji, Sri Tanjung, Bo Sangaji, Primbon Tengger, serta Warisan Syekh Burhanudin Ulakan.

Selanjutnya, “Warisan Perempuan” menyoroti pengalaman, peran, suara, dan kedudukan perempuan dalam kehidupan masyarakat pada masa lalu yang turut terekam dalam manuskrip. Bagian ini antara lain menghadirkan Simbur Cahaya, Sri Tanjung, dan Panji.

Sementara itu, “Warisan Karya Istimewa” menampilkan manuskrip dengan karakter khusus dari sisi isi, bentuk, bahasa, tradisi intelektual, maupun nilai dokumenternya.

Koleksi tersebut mencakup Siksa Kandang Karesian, Babad Diponegoro, Nagarakretagama, La Galigo, Tambar Ni Hulit, Syair Hamzah Fansuri, dan Pecenongan.

“Pengunjung tidak hanya diajak melihatnya sebagai ‘benda lama’, tetapi memahami manuskrip sebagai sumber pengetahuan yang menyimpan cerita tentang manusia, masyarakat, pemikiran, nilai, dan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.

Pameran tersebut juga menjadi bagian dari upaya Perpusnas memperluas pemanfaatan perpustakaan sebagai ruang belajar, berkarya, berdiskusi, dan berinteraksi dengan pengetahuan.

Rangkaian Hari Kunjung Perpustakaan 2026 turut menghadirkan kelas literasi, gelar wicara, kelas menulis, literasi musik dan sinema, kegiatan kepustakawanan, serta kegiatan yang mengangkat kekayaan naskah Nusantara.

Baca juga: Borobudur Hadir Secara Imersif di Galeri Indonesia Kaya