Jakarta – Bulan Agustus 2026 menjadi bulan terhangat yang pernah tercatat, menyamai rekor Juli 2023, berdasarkan data yang dirilis Copernicus Climate Change Service (C3S).
Dalam data tersebut, suhu rata-rata udara di permukaan bumi pada Agustus 2026 mencapai 1,65°C di atas tingkat praindustri, sekaligus menjadi pertama kalinya sejak November 2025 suhu kembali menembus 1,5°C.
C3S sendiri merupakan layanan pemantauan perubahan iklim yang dijalankan European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF).
Kenaikan suhu ini disebut terjadi bersamaan dengan rekor suhu permukaan laut di wilayah samudra di luar kawasan kutub.
Suhu rata-rata permukaan laut di wilayah tersebut menjadi yang tertinggi yang pernah tercatat untuk bulan Agustus. Bahkan, suhu permukaan laut harian global mencapai 21,11°C, menjadi angka tertinggi yang pernah direkam.
Baca juga: UNICEF: 20 Juta Anak Alami Kekerasan Seksual Online Setiap Tahun
“Agustus 2026 merupakan bulan yang luar biasa dalam catatan iklim global. Bulan ini menjadi Agustus terhangat sekaligus bulan terhangat yang pernah tercatat, dengan suhu global mencapai 1,65°C di atas tingkat praindustri, menandai kembalinya suhu global di atas 1,5°C,” ujar Samantha Burgess, Strategic Lead for Climate di ECMWF, melansir laman Copernicus, Kamis (10/9/2026).
Kondisi laut dipengaruhi pemanasan global akibat pembakaran bahan bakar fosil serta peningkatan suhu permukaan laut di Pasifik ekuatorial yang berkaitan dengan kondisi El Niño yang semakin kuat.
Suhu permukaan laut di Pasifik tropis bahkan mencapai rekor tinggi. Dampaknya mulai terlihat di daratan.
Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) melaporkan kondisi yang terjadi mendukung peningkatan intensitas kebakaran musiman di Indonesia.
Di Eropa Barat, Agustus 2026 sekaligus mengakhiri musim panas terpanas yang pernah tercatat di kawasan tersebut, melampaui rekor 2003.
Gelombang panas kembali terjadi pada Agustus 2026 setelah rangkaian suhu ekstrem yang telah berlangsung sejak Mei.
Kondisi kering juga melanda sebagian besar Eropa Barat serta wilayah Eropa tengah dan timur.
Kekeringan parah dilaporkan terjadi di Prancis, Inggris, Hungaria, Rumania, dan Serbia, sementara sejumlah sungai besar seperti Rhine, Danube, Southern Bug, dan Dnieper mengalami debit yang sangat rendah.
“Jika digabungkan dengan rekor suhu permukaan laut global dan musim panas terpanas yang pernah tercatat di Eropa Barat, pengamatan ini menunjukkan bagaimana perubahan iklim mendorong kondisi ekstrem baik di atmosfer maupun lautan,” kata Burgess.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan suhu tidak hanya terjadi di udara. Pemanasan laut dan kondisi El Niño turut menjadi bagian dari perubahan iklim yang memperkuat berbagai kondisi ekstrem di sejumlah wilayah.
Baca juga: Krisis Malnutrisi, 1 Juta Anak Afghanistan Terancam Meninggal



