Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim negaranya sekarang merupakan produsen minyak terbesar di dunia. Klaim tersebut ia sampaikan usai kesepakatan minyak dengan Venezuela.
Namun demikian, Trump menyebut posisi AS sebagai produsen minyak terbesar itu tidak memperhitungkan Venezuela yang memiliki cadangan sekitar 65 miliar barel.
“Sekarang kami yang terbesar di dunia, dan itu tanpa Venezuela, yang baru saja kami tambahkan ke persediaan kecil kami,” kata Trump, melansir Anadolu, Jumat (11/9/2026).
Pernyataan tersebut merujuk pada kesepakatan energi yang melibatkan North American Blue Energy Partners (NABEP) dan pemerintah Amerika Serikat.
Melalui kesepakatan itu, Office of Strategic Capital di bawah Departemen Pertahanan AS akan mendapatkan 35 persen saham di perusahaan induk NABEP tanpa biaya bagi pembayar pajak.
Pemerintah AS juga memperoleh hak untuk membeli 20 persen produksi minyak NABEP dengan harga sesuai biaya produksi.
Baca juga: Turki Luncurkan Pesawat Antariksa ke Bulan pada 2027
Selain itu, Washington memiliki hak penolakan pertama untuk membeli sebagian besar produksi yang tersisa.
Kesepakatan tersebut mencakup 17 ladang minyak di Venezuela. Gedung Putih menyebut NABEP memperoleh konsesi selama 100 tahun, meski Presiden Interim Venezuela Delcy Rodriguez sebelumnya menyebut kesepakatan tersebut berlaku selama 25 tahun.
Pemerintah AS memperkirakan proyek tersebut dapat menghasilkan sekitar US$200 miliar dari royalti dan pajak selama 25 tahun pertama.
Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pembangunan kembali Venezuela dan program sosial di negara tersebut.
NABEP juga disebut berencana menginvestasikan hingga US$100 miliar untuk mengembangkan kembali industri minyak Venezuela.
Investasi tersebut ditujukan untuk memperbaiki infrastruktur dan meningkatkan produksi minyak yang selama bertahun-tahun mengalami penurunan.
Besarnya cadangan minyak Venezuela menjadi salah satu alasan kesepakatan tersebut memiliki nilai strategis bagi Amerika Serikat.
Venezuela memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia, tetapi produksi minyaknya jauh di bawah kapasitas karena persoalan investasi dan infrastruktur.
Oleh karena itu, kesepakatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pasokan minyak Venezuela.
Bagi pemerintahan Trump, akses terhadap produksi Venezuela juga menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat posisi Amerika Serikat di sektor energi dan memperluas pengaruhnya di kawasan.
Meski demikian, klaim Trump bahwa cadangan Venezuela kini menjadi bagian dari “persediaan” Amerika Serikat perlu dibedakan dari struktur kesepakatannya.
Cadangan minyak tersebut tetap berada di Venezuela, sementara kepentingan AS diwujudkan melalui kepemilikan saham, hak pembelian produksi, dan keterlibatan dalam pengembangan ladang minyak.


