Jakarta – Sebanyak 96 persen ekosistem terumbu karang dangkal di dunia berisiko mengalami kerusakan parah pada 2075 akibat perubahan iklim.
Peringatan ini disampaikan International Union for Conservation of Nature (IUCN) berdasarkan penilaian sistematis pertama terhadap 127 ekosistem terumbu karang tropis dan subtropis di dunia.
IUCN menempatkan 96 persen ekosistem tersebut dalam kategori kritis berdasarkan risiko keruntuhan yang diproyeksikan.
Pemanasan laut akibat perubahan iklim menjadi ancaman paling konsisten terhadap kelangsungan ekosistem terumbu karang.
Terumbu karang dangkal umumnya ditemukan pada kedalaman hingga sekitar 40 meter. Ekosistem ini memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan menjadi habitat bagi berbagai spesies laut.
Secara global, terumbu karang dangkal mencakup area sekitar 188.000 kilometer persegi, termasuk Great Barrier Reef di Australia, kawasan Segitiga Terumbu Karang di Pasifik Barat dan Asia Tenggara, Sistem Terumbu Karang Mesoamerika, serta terumbu karang di Laut Merah.
IUCN menjelaskan bahwa kenaikan suhu air laut dapat memicu pemutihan karang atau coral bleaching.
Baca juga: Pesawat Batal Terbang karena Toddler Ogah Pakai Seatbelt
Ketika suhu air terlalu tinggi, karang mengeluarkan alga mikroskopis yang hidup di dalam jaringannya dan menjadi sumber utama nutrisi.
Kondisi tersebut membuat karang kehilangan warna sekaligus sumber makanan, sehingga berisiko mati apabila tekanan panas berlangsung berkepanjangan.
“Tekanan panas akibat perubahan iklim merupakan ancaman paling konsisten yang mendorong penurunan kondisi terumbu karang di seluruh dunia,” demikian penjelasan IUCN, dikutip dari DW, Jumat (23/10/2026).
Selain perubahan iklim, penangkapan ikan berlebihan juga mengganggu keseimbangan ekosistem terumbu karang.
Penurunan populasi ikan kakatua dan kerapu, misalnya, dapat memengaruhi kondisi habitat karena kedua kelompok ikan tersebut berperan dalam menjaga keseimbangan ekologis.
Pembangunan pesisir, pencemaran, aktivitas pariwisata, serta badai yang semakin parah turut mempercepat degradasi terumbu karang.
Ketika karang keras menghilang, struktur habitatnya dapat tergantikan oleh alga, pecahan karang, dan spons.
Perubahan tersebut mengurangi keanekaragaman ekosistem dan mengancam berbagai spesies yang bergantung pada terumbu karang, termasuk ikan karang, kerang, penyu, dan hiu.
Pemodelan IUCN menggunakan skenario iklim yang dikembangkan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), yang memperkirakan pemanasan global mencapai sekitar 2,7 derajat Celsius di atas tingkat praindustri pada 2100.
Berdasarkan proyeksi tersebut, risiko terhadap kelangsungan ekosistem terumbu karang diperkirakan semakin besar dalam beberapa dekade mendatang.
Meski demikian, IUCN menegaskan bahwa sebagian besar terumbu karang belum sepenuhnya hilang.
Jika penilaian hanya didasarkan pada perubahan yang terjadi selama 50 tahun terakhir tanpa memasukkan proyeksi perubahan iklim di masa depan, sekitar 24 persen ekosistem yang dinilai akan masuk kategori kritis.
Mishal Gudka, pemimpin ilmiah penilaian Daftar Merah Ekosistem Terumbu Karang IUCN, menyebut kondisi tersebut masih memberikan kesempatan untuk memperkuat upaya konservasi dan pengendalian perubahan iklim.
“Tindakan yang kita ambil dalam beberapa tahun ke depan akan menentukan seperti apa ekosistem ini pada akhir abad ini, apakah tetap bertahan seperti yang kita kenal atau berubah menjadi ekosistem berbeda yang nilainya lebih rendah bagi alam dan manusia,” ujarnya.
Baca juga: Krisis Kelahiran, Singapura Bikin Dating App untuk Warganya




