Krisis Kelahiran, Singapura Bikin Dating App untuk Warganya

William Ciputra•5 Oktober 2026

Jakarta – Pemerintah Singapura ikut turun tangan dalam urusan mencari pasangan. Hal ini dilakukan dengan meluncurkan aplikasi dating app bernama FirstDate.

Melalui aplikasi FirstDate ini, pegawai pemerintah muda di Singapura bisa melakukan perkenalan dengan seseorang yang bisa saja menjadi calon pasangannya di kemudian hari.

FirstDate masih dalam tahap uji coba untuk pegawai pemerintah berusia 21–35 tahun. Peserta mendaftar menggunakan Singpass, sistem identitas digital nasional Singapura, untuk memverifikasi identitas, usia, dan status pernikahan.

Layanan ini hadir ketika angka kelahiran Singapura terus menurun. Sepanjang 2025, hanya 29.864 bayi lahir di negara tersebut, turun 11,4 persen dari 33.703 kelahiran pada 2024.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah Singapura mencoba pendekatan baru untuk membantu warganya menemukan pasangan.

FirstDate menjadi bagian dari sejumlah inisiatif serupa di Asia, setelah Tokyo memiliki Tokyo Enmusubi dan Seoul menjalankan Seoulting sejak 2024.

Berbeda dari dating app komersial yang biasanya menampilkan banyak profil, FirstDate hanya memperkenalkan satu calon pasangan dalam setiap siklus.

Baca juga: Angka Kelahiran Singapura Turun ke Titik Terendah Sejak Merdeka

Setelah mendapat perkenalan, kedua peserta memiliki waktu 72 jam untuk menentukan apakah ingin terhubung. Model ini dinilai dapat membuat pengguna lebih serius mempertimbangkan satu calon pasangan.

Dr. Norman Li, profesor psikologi di Singapore Management University, mengatakan banyaknya pilihan justru bisa membuat seseorang kesulitan menentukan pilihan.

“Aplikasi kencan memiliki dorongan untuk memberikan orang banyak sekali pilihan. Sulit untuk menentukan seseorang ketika Anda merasa pilihannya tidak terbatas,” ujar Li dikutip dari CNBC.

FirstDate juga tidak menggunakan model berlangganan maupun fitur berbayar. Selain itu, data pengguna juga tidak akan dimonetisasi.

Selain identitas dan status pernikahan, peserta harus memberikan informasi mengenai preferensi mereka melalui kuesioner. Data tersebut kemudian digunakan dalam proses pencocokan dengan menggunakan Gale-Shapley Stable Marriage Algorithm.

Menurut Dr. Teo Chung Piaw, Dean National University of Singapore Business School, FirstDate berpotensi menghasilkan pasangan yang lebih cocok.

Namun, ia mempertanyakan apakah jawaban dari kuesioner benar-benar dapat menggambarkan ketertarikan seseorang di dunia nyata.

“FirstDate secara masuk akal dapat menghasilkan pasangan yang lebih cocok,” kata Teo.

Menurutnya, yang perlu dilihat adalah apakah preferensi yang dinyatakan pengguna melalui kuesioner mampu memprediksi kecocokan hubungan dengan lebih baik dibandingkan data perilaku yang diperoleh aplikasi kencan biasa.

Gale-Shapley Stable Marriage Algorithm sendiri bukan metode yang hanya digunakan dalam layanan pemerintah. Hinge pernah memperkenalkan versi modifikasi algoritma tersebut untuk fitur “Most Compatible” pada 2018.

Meski menggunakan sistem pencocokan, FirstDate tidak menjamin setiap perkenalan akan berujung pada hubungan. Keputusan untuk melanjutkan tetap berada di tangan pengguna.

Pemerintah Singapura sebenarnya sudah lama terlibat dalam upaya “menjodohkan” warganya.

Pada 1984, pemerintah membentuk Social Development Unit untuk mendorong kelompok lajang berpendidikan universitas bertemu melalui berbagai kegiatan sosial.

Kini, upaya tersebut berlangsung dalam situasi demografi yang berbeda. Selain jumlah kelahiran yang rendah, median usia perempuan saat melahirkan anak pertama juga meningkat dari 31,3 tahun pada 2021 menjadi 32,1 tahun pada 2025.

Total Fertility Rate atau TFR Singapura turun menjadi 0,87 anak per perempuan pada 2025, jauh di bawah tingkat penggantian populasi sebesar 2,1 anak per perempuan.

Pemerintah juga membentuk Marriage and Parenthood Reset Workgroup pada 2026 untuk merumuskan kebijakan yang dapat mendorong masyarakat menikah dan memiliki anak.

Eksperimen pencarian jodoh yang didukung pemerintah di kota lain seperti Tokyo, Jepang dan Seoul, Korea Selatan juga mulai menunjukkan hasil.

Hingga akhir Agustus, Tokyo Enmusubi memiliki sekitar 17 ribu anggota dan menghasilkan 835 pasangan yang masuk ke hubungan serius serta 316 pernikahan.

Sementara itu, lima acara Seoulting menerima 13.854 pendaftar dan menghasilkan 126 pasangan yang saling memilih. Pasangan pertama yang diketahui bertemu melalui program tersebut dijadwalkan menikah pada Desember.

Untuk saat ini, FirstDate masih terbatas bagi pegawai pemerintah berusia 21–35 tahun. Pendaftaran tahap uji coba ditutup pada 5 Oktober dan belum ada pengumuman mengenai perluasan layanan kepada masyarakat umum.

Baca juga: 35 Persen Anak Muda Jepang Tak Berniat Menikah