Search

Mengenal Adenokarsinoma Paru yang Diderita Paus Leo XIV

William Ciputra•15 Oktober 2026

Paus Leo XIV didiagnosis mengidap adenokarsinoma paru. (Dok. Instagram)

Jakarta – Paus Leo XIV didiagnosis mengalami adenokarsinoma paru, salah satu jenis kanker paru yang paling umum.

Diagnosis ini dikonfirmasi setelah Paus menjalani operasi untuk mengangkat tumor di lobus bawah paru-paru kanannya di Rumah Sakit Gemelli, Roma.

Vatikan menyatakan operasi tersebut berjalan lancar, tetapi hasil pemeriksaan lanjutan masih diperlukan untuk menentukan apakah Paus membutuhkan pengobatan tambahan.

Kasus ini kembali menyoroti adenokarsinoma paru, jenis kanker yang dapat dialami perokok maupun orang yang tidak pernah merokok.

Menurut Lung Cancer Foundation of America, adenokarsinoma mencakup sekitar 40 persen dari seluruh kasus kanker paru di Amerika Serikat.

Baca juga: PCOS Ganti Istilah Jadi PMOS, Kenali Pilar Utama Gejalanya!

Apa Itu Adenokarsinoma Paru?

Adenokarsinoma paru adalah kanker yang berkembang dari sel kelenjar di jaringan paru, termasuk sel yang menghasilkan lendir.

Penyakit ini tergolong kanker paru bukan sel kecil (non-small cell lung cancer atau NSCLC), kelompok yang mencakup sebagian besar kasus kanker paru.

Jenis kanker ini ditemukan di bagian luar paru-paru dan cenderung tumbuh lebih lambat dibandingkan beberapa jenis kanker paru lainnya.

Adenokarsinoma juga relatif lebih mungkin terdeteksi sebelum menyebar dibandingkan jenis NSCLC lainnya. Namun, penyakit ini tetap dapat berkembang menjadi serius.

Pada kasus Paus Leo XIV, dokter telah mengangkat lobus bawah paru-paru kanan yang mengandung tumor. Pemeriksaan jaringan setelah operasi mengonfirmasi diagnosis adenokarsinoma.

Meski demikian, stadium kanker tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan informasi bahwa tumor telah diangkat.

Dokter masih perlu menilai jaringan dan kelenjar getah bening di sekitarnya untuk mengetahui apakah sel kanker telah menyebar.

Baca juga: Menjaga Irama Jantung dengan Gaya Hidup Lebih Sehat

Gejala dan Faktor Risiko Adenokarsinoma Paru

Adenokarsinoma paru dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala pada tahap awal. Sebagian kasus baru ditemukan ketika seseorang menjalani pemeriksaan pencitraan untuk keperluan medis lain.

Oleh karena itu, tidak adanya keluhan bukan berarti seseorang pasti terbebas dari penyakit ini.

Ketika gejala muncul, tanda-tandanya dapat berupa batuk berkepanjangan, sesak napas, nyeri dada, suara serak, mengi, kelelahan, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau batuk berdarah.

Gejala tersebut juga dapat disebabkan oleh kondisi lain sehingga pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

Merokok merupakan faktor risiko utama kanker paru, tetapi adenokarsinoma juga menjadi jenis kanker paru yang paling sering ditemukan pada orang yang tidak merokok.

Faktor risiko lainnya meliputi paparan asap rokok dari orang lain, gas radon, polusi udara, serta zat berbahaya tertentu seperti asbes dan emisi diesel. Riwayat kanker paru dalam keluarga juga dapat meningkatkan risiko.

Adenokarsinoma paru lebih sering ditemukan pada perempuan dan orang berusia relatif lebih muda dibandingkan beberapa jenis kanker paru lainnya.

Namun, karakteristik tersebut tidak dapat digunakan untuk memastikan apakah seseorang akan mengalami kanker. Risiko setiap orang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk paparan lingkungan dan kondisi kesehatan.

Baca juga: Kasus Baru Demensia Diprediksi Capai 24,7 Juta per Tahun pada 2050

Bagaimana Adenokarsinoma Paru Didiagnosis dan Diobati?

Diagnosis adenokarsinoma paru dapat melibatkan pemeriksaan fisik, penelusuran riwayat kesehatan, serta pemeriksaan pencitraan seperti rontgen dan CT scan.

Jika ditemukan jaringan yang mencurigakan, dokter dapat melakukan biopsi untuk memeriksa sampel jaringan di laboratorium dan memastikan keberadaan sel kanker.

Setelah diagnosis dipastikan, dokter menentukan stadium berdasarkan ukuran dan lokasi tumor serta kemungkinan penyebaran ke kelenjar getah bening atau organ lain. Informasi ini menjadi dasar untuk memilih pengobatan yang sesuai.

Jika kanker masih terlokalisasi dan memungkinkan untuk diangkat, operasi dapat menjadi pilihan utama. Salah satu prosedurnya adalah lobektomi, yaitu pengangkatan satu lobus paru yang mengandung tumor.

Paru-paru kanan memiliki tiga lobus, sedangkan paru-paru kiri memiliki dua lobus.

Selain operasi, penanganan adenokarsinoma paru dapat mencakup kemoterapi, radioterapi, imunoterapi, atau terapi target.

Pilihannya bergantung pada stadium kanker, kondisi pasien, dan karakteristik tumor. Pemeriksaan biomarker dapat membantu dokter menentukan apakah pasien berpotensi memperoleh manfaat dari terapi tertentu.

Dalam kasus Paus Leo XIV, operasi berlangsung sekitar 90 menit dan ia sadar kembali secara normal setelah prosedur.

Namun, dokter masih perlu memeriksa jaringan paru-paru dan kelenjar getah bening untuk memastikan stadium kanker serta menentukan apakah pengobatan lanjutan diperlukan.

Masa pemulihan setelah lobektomi dapat melibatkan nyeri dan penyesuaian fungsi pernapasan karena berkurangnya jaringan paru-paru.

Latihan pernapasan dan pencegahan infeksi saluran pernapasan juga dapat menjadi bagian dari perawatan setelah operasi.

Peluang pemulihan adenokarsinoma paru sangat bergantung pada stadium saat diagnosis ditegakkan dan respons terhadap pengobatan.

Deteksi dini dapat membuka lebih banyak pilihan penanganan, tetapi prognosis setiap pasien tetap harus dinilai berdasarkan hasil pemeriksaan medisnya.

Baca juga: Konsumsi Gula Tinggi, Waktu Sikat Gigi Masyarakat Masih Belum Tepat